Dari Pesantren Mengawal Indonesia, Mewarnai Peradaban Dunia
Category : Ruang Opini | Sub Category : Ruang Opini | Posted on 2025-10-24 20:35:01
Dari Pesantren Mengawal Indonesia, Mewarnai Peradaban Dunia
Oleh : Aji Priyo Utomo, S. Pd
Hari Santri Nasional 2025 merupakan sebuah momen yang tidak hanya
menjadi perayaan semata, akan tetapi juga menjadi sebuah refleksi tentang siapa
santri dan apa perannya bagi bangsa Indonesia. Di dalam sepanjang Sejarah perjalanan Republik ini, santri adalah cahaya yang tak pernah
padam di langit peradaban Nusantara, meskipun terkadang ada yang hendak memadamkan Cahaya itu dengan mencoba membelokan alur sejarah namun, biarkan saja sejarah tetap menjadi bianglala peristiwa, yang menampilkan semua bayangan apa adanya. Apabila kita perhatikan dengan saksama bahwa dari surau kecil di pelosok desa
hingga pesantren besar yang berdiri megah, santri menapaki jejak panjang
perjuangan dengan langkah yang berakar pada keimanan dan berbuah pada kemajuan.
Mereka adalah anak-anak bangsa yang mewarisi semangat jihad para ulama, bukan
dengan senjata, melainkan dengan ilmu, amal, dan akhlak.
Santri, dalam makna yang sesungguhnya, bukan hanya mereka yang
tinggal di pesantren. Santri adalah mereka yang hatinya selalu terpaut pada
ilmu dan kebaikan, yang hidupnya dibimbing oleh adab, dan langkahnya diarahkan
oleh iman. Santri adalah penjaga nilai, pelanjut perjuangan, dan penegak akhlak
di tengah gelombang zaman yang terus berubah.
Sejarah telah mencatat, dari tangan para santri-lah lahir semangat
kebangsaan yang sejati. Pada 22 Oktober 1945, KH. Hasyim Asy’ari menyerukan
Resolusi Jihad seruan suci bahwa membela tanah air adalah bagian dari iman.
Sejak saat itu, darah dan doa para santri mengalir menjadi satu dengan
perjuangan kemerdekaan bangsa ini. Maka, setiap tanggal 22 Oktober, kita tidak
sekadar mengenang masa lalu, tapi juga meneguhkan tekad: bahwa semangat juang
santri akan terus hidup di hati kita semua.
Hanya saja tantangan santri hari ini tidak lagi berupa senjata dan
peperangan, tetapi persoalan derasnya arus globalisasi, derasnya informasi, dan
ujian moral yang datang dari segala arah. Yang pada akhirnya merubah tatanan
kehidupan manusia. Dunia digital menawarkan kemudahan, tetapi juga menyimpan
jebakan. Di sinilah santri harus hadir, bukan untuk menolak zaman, tetapi
menuntunnya agar tetap berpihak pada kebaikan. Sebagaimana pesan Gus Dur, “Santri
itu bukan hanya mereka yang mondok, tetapi siapa pun yang berjiwa santri—yang
setia pada kebenaran dan keadilan.” Maka, menjadi santri hari ini
berarti menjadi manusia yang beriman, berilmu, dan berakhlak di mana pun ia
berada: di sekolah, di kantor, di dunia maya, bahkan di tengah masyarakat.
Santri harus menjadi penjaga moral bangsa, pelita di tengah gelapnya zaman, dan oase di tengah kegersangan nilai seperti Bintang sembilan. Dengan ilmu, santri memerangi kebodohan; dengan kerja keras, santri mengatasi kemiskinan; dengan akhlakul karimah, santri mengalahkan kemerosotan moral. Inilah jihad santri masa kini—jihad yang tidak lagi menumpahkan darah, tetapi menumbuhkan kasih, ilmu, dan manfaat bagi sesama. Sebagaimana ajaran Ki Hajar Dewantara, “Ing ngarsa sung tulada, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani.” Santri di era ini harus menjadi teladan di depan, penggerak di tengah, dan pemberi semangat di belakang. Ia harus hadir sebagai pelopor perubahan—dengan kepala yang cerdas, hati yang tulus, dan niat yang lurus.
Pada akhirnya di tengah arus modernitas, santri harus menjadi jangkar
moral bangsa. Ia mengajarkan bahwa kemajuan tanpa nilai hanyalah kehampaan.
Ilmu tanpa adab hanyalah kesombongan. Sebagaimana pesan KH. Mustofa Bisri (Gus
Mus), “Agama tanpa kasih hanya akan melahirkan permusuhan.” Maka,
marilah kita menjadi santri yang menebar kasih, bukan kebencian; menyebar
hikmah, bukan fitnah; membawa cahaya, bukan api yang membakar.
Hari ini, tanggal 22 Oktober 2025 marilah kita berjanji dalam hati:
untuk terus melanjutkan perjuangan para santri terdahulu. Menjadi generasi yang
berilmu, beriman, dan berakhlak. Menjadi santri yang tidak hanya cerdas dalam
berpikir, tetapi juga lembut dalam bertutur. Tidak hanya berdoa untuk surga,
tetapi juga bekerja untuk Indonesia. Karena selama masih ada santri yang
belajar dengan tekun, berbuat dengan ikhlas, dan berjuang dengan sabar, selama
itu pula cahaya Indonesia tidak akan padam. Selamat hari santri 22 Oktober
2025, Mengawal Indonesia Merdeka, Menuju Peradaban Dunia.
Cari
Kategori
Artikel Terbaru
- Buku Sejarah SMP Ma’arif 3 Kebumen Diserahkan Secara Simbolis Jelang Kajian Ilmu Falak Harlah NU Abad Ke-1
- Pohon yang Lupa Akar Sebuah Refleksi Krisis Kesadaran Asal-usul
- SMK Ma’arif 9 Kebumen Mulai Bangun GOR, Perkuat Fasilitas Pendidikan Vokasi
- Cinta, Nurani, dan Ketahanan Batin Kita
- Pikulan Mlebu Rasane Kawulo: Ketika Kekuasaan Kehilangan Adab
- Gelas Retak Bernama Wewenang: Satir Kekuasaan yang Lupa Amanah
- Ngayomi: Memimpin dengan Kemanusiaan
- Pondasi yang Dilupakan (Laku Jawa, Kesadaran Descartes, dan Etika Kekuasaan)

