Cinta, Nurani, dan Ketahanan Batin Kita
Category : Ruang Opini | Sub Category : Ruang Opini | Posted on 2026-01-28 12:47:57
Cinta, Nurani, dan Ketahanan Batin Kita
Oleh: Aji Priyo Utomo
“Cinta adalah seberapa jauh kau menyimpan air mata.”
Dalam kehidupan bersama, cinta tidak berhenti pada hubungan personal. Ia menjelma sebagai sikap etis terhadap dunia yang kita huni. Kita hidup di masa yang penuh suara, penuh penilaian, dan sering kali penuh kecurigaan. Di ruang publik, perbedaan mudah berubah menjadi pertentangan. Emosi lebih cepat menyebar daripada pertimbangan. Dalam situasi seperti itu, cinta hadir bukan sebagai romantika, melainkan sebagai laku menjaga kewarasan.
Sepertinya Ada “rantai gajah” yang melingkar dan menawan angan-angan. Rantai itu bisa berupa rasa takut, kenyamanan, atau sikap merasa cukup. Sepertinya ada yang membuat kita enggan bertanya lebih jauh dan memilih aman dalam kebisuan. Padahal, kebisuan yang terlalu lama bisa mengikis kepekaan. Dalam masyarakat yang sibuk mengukur keberhasilan dengan angka dan sorotan, kepekaan justru menjadi barang langka.
Jika gagasan ini kita bawa ke ruang sosial, maknanya menjadi terang: merawat tanpa menguasai, memimpin tanpa menindas, menolong tanpa merendahkan. Cinta menjadi etika relasi yang menjaga martabat. Mengajarkan kita untuk hadir sebagai sesama, bukan sebagai penguasa atas yang lain. Dalam bahasa sederhananya kuat tanpa sewenang-wenang, tegas tanpa meremehkan.
Cari
Kategori
Artikel Terbaru
- Buku Sejarah SMP Ma’arif 3 Kebumen Diserahkan Secara Simbolis Jelang Kajian Ilmu Falak Harlah NU Abad Ke-1
- Pohon yang Lupa Akar Sebuah Refleksi Krisis Kesadaran Asal-usul
- SMK Ma’arif 9 Kebumen Mulai Bangun GOR, Perkuat Fasilitas Pendidikan Vokasi
- Cinta, Nurani, dan Ketahanan Batin Kita
- Pikulan Mlebu Rasane Kawulo: Ketika Kekuasaan Kehilangan Adab
- Gelas Retak Bernama Wewenang: Satir Kekuasaan yang Lupa Amanah
- Ngayomi: Memimpin dengan Kemanusiaan
- Pondasi yang Dilupakan (Laku Jawa, Kesadaran Descartes, dan Etika Kekuasaan)

