Gelas Retak Bernama Wewenang: Satir Kekuasaan yang Lupa Amanah
Category : Ruang Opini | Sub Category : Ruang Opini | Posted on 2026-01-26 15:12:22
Gelas Retak Bernama Wewenang: Satir Kekuasaan yang Lupa Amanah
0leh: Aji Priyo Utomo
Ketika kekuasaan dipakai untuk menjaga posisi dan dihormati karena jabatan, bukan untuk melayani, gelas retak itu tetap bocor. KH. Wahab Hasbullah mengingatkan: amanah adalah ujian, bukan hak mutlak.Gelas yang pernah retak tak akan pernah kembali seperti semula.
Ia mungkin direkatkan, dipoles, bahkan dihias emas di pinggirnya. Tapi air di dalamnya tahu: ada luka di dinding yang tak lagi jujur. Begitulah wewenang. Sekali disalahgunakan, ia tak pernah benar-benar bersih lagi hanya tampak utuh di mata yang mau pura-pura buta.
Kita sering melihat gelas-gelas retak berdiri rapi di rak kekuasaan. Mereka tetap dipakai, tetap diisi air kebijakan, tetap disodorkan tanpa ewuh pekewuh. Kita disuruh minum dan tersenyum, meski rasa logam bocor dari sela-sela retaknya.
“Ah, cuma goresan.”
Retak tidak pernah berhenti di satu garis. Ia merambat. Ia belajar membelah. Hari ini kita melihat mereka yang punya kursi lebih sibuk menjaga citra daripada menjaga amanah. Mereka pandai merangkai kata ke depan, sambil tangannya menyelinap ke laci mengambil pisau untuk menikam dari belakang. Mulutnya berdoa, telinganya menutup jeritan.
Wewenang yang seharusnya menjadi jembatan penghubung perbedaan pikiran, justru berubah menjadi penyebab keretakan itu sendiri.
Tragis sekaligus satir: gelas retak itu marah jika disebut retak. Mereka minta dipanggil “utuh”. Mereka mengganti label, bukan perilaku. Padahal retaknya tetap di situ. Air tetap bocor. Kepercayaan tetap menetes habis. Boleh kiranya mengutip perkataan beliau KH. Wahab Hasbullah, Tokoh Pendiri Nahdlatul Ulama.
"Amanah adalah ujian; musyawarah dan moralitas pemimpin adalah fondasi agar kekuasaan tidak merusak masyarakat.”
Penyalahgunaan wewenang sering datang bukan dari orang jahat, tapi dari orang yang terlalu lama merasa benar. Mereka lupa bahwa jabatan itu pinjaman, bukan warisan. Mereka lupa bahwa rakyat bukan penonton, tapi pemilik panggung.
Ketika seorang pemimpin lupa amanahnya, gelas yang seharusnya bening akan pecah, dan rakyatlah yang meneteskan kepercayaannya.
Masalah kita bukan kekurangan pemimpin, melainkan kebanyakan gelas retak yang enggan turun dari rak. Mereka takut diganti. Padahal gelas yang pecah seharusnya disingkirkan, bukan dipakai ulang sambil berharap bocornya berhenti sendiri.
Keadilan sejati tidak butuh gelas mewah.
Ia hanya butuh wadah yang jujur: Tidak retak Tidak bocor Tidak berpura-pura utuh. Apalagi menjadikan etika dan moral sebagai bahan lelucon.
Cari
Kategori
Artikel Terbaru
- Buku Sejarah SMP Ma’arif 3 Kebumen Diserahkan Secara Simbolis Jelang Kajian Ilmu Falak Harlah NU Abad Ke-1
- Pohon yang Lupa Akar Sebuah Refleksi Krisis Kesadaran Asal-usul
- SMK Ma’arif 9 Kebumen Mulai Bangun GOR, Perkuat Fasilitas Pendidikan Vokasi
- Cinta, Nurani, dan Ketahanan Batin Kita
- Pikulan Mlebu Rasane Kawulo: Ketika Kekuasaan Kehilangan Adab
- Gelas Retak Bernama Wewenang: Satir Kekuasaan yang Lupa Amanah
- Ngayomi: Memimpin dengan Kemanusiaan
- Pondasi yang Dilupakan (Laku Jawa, Kesadaran Descartes, dan Etika Kekuasaan)

