LINK Pendaftaran SPMB SMK Ma'arif 9 Kebumen

Pikulan Mlebu Rasane Kawulo: Ketika Kekuasaan Kehilangan Adab

Category : Ruang Opini | Sub Category : Ruang Opini | Posted on 2026-01-27 19:01:03


Pikulan Mlebu Rasane Kawulo: Ketika Kekuasaan Kehilangan Adab

Pikulan Mlebu Rasane Kawulo: Ketika Kekuasaan Kehilangan Adab


Oleh: Aji Priyo Utomo


Di tengah gejolak batin yang belum bisa diajak kompromi, tiba-tiba pesan singkat itu datang:
“Tak pasrahno marang panjenengan. Ngapuro, aku pamit, yo. Muga aku sing mungkasi kabeh polah. Muga ndang mari. Semangat terus. Aku yakin panjenengan iso noto. Perkara wingi pancen kudu ana pungkasane.”

Seperti tercabik-cabik. Logika tak lagi bekerja sebagaimana mestinya. Lalu sebuah video singkat melintas, menambah riuh di dalam kepala tentang satu ungkapan tua: pikulan mlebu rasane kawulo.

Ada beban yang tak bisa ditimbang dengan timbangan pasar. Tak bisa diangkut dengan gerobak. Tak pula bisa difoto untuk laporan kinerja. Beban itu masuk diam-diam, menyusup ke perasaan. Orang Jawa menyebutnya: pikulan mlebu rasane kawulo. Ia tidak tampak, tetapi terasa. Seperti hawa panas yang merembes ke pori-pori, seperti kopi pahit yang diminum tanpa gula, seperti napas panjang yang ditahan terlalu lama.

Di situlah kekuasaan yang semestinya ngemong justru ngrusihi: mengganggu, mengusik, menambah beban batin yang sudah letih. Bukan lagi mengayomi, melainkan menguasai. Bukan lagi melayani, tetapi menuntut dilayani.

Di panggung realitas, mereka sering tampil bak penari keraton: langkahnya anggun, bajunya rapi, pidatonya berapi-api penuh jargon. Namun di balik itu, ada nada angkuh seolah kekuasaan adalah hak milik pribadi, bukan amanah. Keputusan lahir bukan dari musyawarah, melainkan dari ego. Kebijakan dibuat bukan untuk melayani, tetapi untuk mengatur dari atas kursi empuk.

Setiap sikap sok kuasa adalah beban baru di bahu kawulo. Dan setiap kebijakan yang lahir dari keangkuhan adalah luka yang sengaja dipelihara.

Di titik inilah pemikiran KH. Abdul Wahab Hasbullah terasa relevan hingga kini. Bagi beliau, pemimpin bukan figur yang layak dimuliakan secara egois, melainkan orang yang memikul beban terberat demi umat. Jabatan bukan panggung kehormatan, tetapi ladang khidmah. Semakin tinggi kuasa, semakin rendah seharusnya hati. Tanpa adab, kekuasaan hanya akan melahirkan jarak bukan keadilan; ketakutan bukan kepercayaan.

Wong cilik seperti biasa, hanya bisa ngrundel di belakang: di meja ngopi, di teras rumah, di grup WhatsApp. Mereka menyeduh pahitnya sendiri sambil bertanya lirih,
“Bagaimana kalau kami yang berada di posisi itu—yang secara nasab saja masih punya keterkaitan diperlakukan seperti itu? Apalagi kami yang bukan siapa-siapa, tamu kemarin sore!”

Dalam Serat Kalatidha, Ranggawarsita menggambarkan zaman edan: masa ketika kebijaksanaan kalah oleh nafsu kuasa. Manusia hidup dalam tekanan dari kekuatan di atasnya. Kekuasaan, jika jatuh ke tangan yang salah, bukan lagi pelindung, melainkan alat perusak. Bukan ngemong, tetapi njeblosake atau menjerumuskan.

Ironisnya, peraturan yang seharusnya menjadi payung etika kerap berubah menjadi cambuk. Tumpul ke atas, tajam ke bawah—ungkapan klise yang sayangnya terus relevan. Yang kuat dilindungi. Yang lemah disasar. Kawulo alit diminta taat, tetapi jarang diajak bicara. Disuruh patuh pada peraturan, namun tak diberi ruang untuk mengeluh secara bermartabat.

Namun, diam bukan berarti lupa. Diam bukan berarti pasrah. Diam adalah cara lain menyimpan ingatan. Sejarah tidak ditulis oleh pidato yang lantang dan penuh metafora, melainkan oleh yang terpaksa belajar sabar dari luka yang diwariskan.

“Pikulan mlebu rasane kawulo” bukan sekadar ungkapan puitis. Ia adalah peringatan: bahwa setiap arogansi kekuasaan sekecil apa pun—masuk ke relung perasaan. Dan perasaan yang tertindas, pada waktunya, akan menemukan jalannya sendiri. Tak bisa dibendung, tak bisa dihalangi seperti air. Semakin dibendung, semakin besar tekanan yang dihasilkan.


Ruang Ngopi Rasa
Klirong, Kebumen 27 Januari 2026

Leave a Comment:
Bagikan
Kode barcode SPMB SMK Ma'arif 9 Kebumen