LINK Pendaftaran SPMB SMK Ma'arif 9 Kebumen

Ngayomi: Memimpin dengan Kemanusiaan

Category : Ruang Opini | Sub Category : Ruang Opini | Posted on 2026-01-25 18:11:03


Ngayomi: Memimpin dengan Kemanusiaan

Ngayomi: Memimpin dengan Kemanusiaan


Oleh : Aji Priyo Utomo,.

Dalam falsafah Jawa dikenal ungkapan nguwongke wong, yakni memanusiakan manusia. Ungkapan ini bukan sekadar etika pergaulan, melainkan cara pandang hidup bahwa setiap insan memiliki martabat yang wajib dihormati. Dari sini, kepemimpinan sejatinya tidak diukur dari seberapa keras kekuasaan dijalankan, melainkan dari seberapa jauh kemanusiaan dirawat.

Namun, dalam praktik kehidupan organisasi dan birokrasi, pengelolaan manusia kerap terjebak pada mekanisme dan prosedur. Jam kerja dicatat dengan rapi, target dihitung dengan teliti, dan kesalahan ditandai dengan cepat. Akan tetapi, yang sering terabaikan adalah kelelahan, kecemasan, dan luka batin manusia yang ada di balik semua itu. Pemimpin menjadi cekatan di hadapan laporan, tetapi cenderung berjarak ketika berhadapan dengan persoalan kemanusiaan.

Dalam tradisi kebijaksanaan Jawa, pemimpin ideal harus memiliki watak sabar, adil, lan wani. Sabar dalam mengendalikan diri, adil dalam menimbang persoalan, dan wani dalam membela kebenaran. Watak ngayomi—melindungi dan menaungi—menjadi inti dari kepemimpinan. Kekuasaan tidak digunakan untuk menekan, melainkan untuk menguatkan. Pemimpin bukan palu yang memukul, melainkan tangan yang menopang.

Nilai-nilai ini sejalan dengan ajaran Ahlussunnah wal Jama’ah yang menempatkan akhlak sebagai puncak keberagamaan. Dalam tradisi Aswaja, iman tidak berhenti pada pengakuan, tetapi harus mewujud dalam sikap tawassuth (moderat), tawazun (seimbang), tasamuh (toleran), dan i’tidal (adil). Kepemimpinan karena itu tidak cukup hanya berbasis pada kecakapan teknis, tetapi harus ditopang oleh keluhuran budi dan kebijaksanaan batin. Kekuasaan adalah amanah untuk khidmah—melayani dan mengabdi kepada kemaslahatan umat.

Dalam konteks inilah teladan KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) menjadi sangat relevan. Ia pernah mengingatkan, “Kita ini sering terlalu sibuk membela Tuhan, sampai lupa membela manusia.” Pernyataan ini menegaskan bahwa agama dan kekuasaan seharusnya berpihak pada martabat kemanusiaan, bukan semata-mata pada formalitas dan simbol. Gus Dur menolak kepemimpinan yang dingin dan kaku, yang lebih setia pada prosedur daripada pada nilai keadilan dan kasih sayang.

Gus Dur juga dikenal sebagai pemimpin yang tidak berjarak dengan rakyat. Ia hadir bukan sebagai menara kekuasaan, tetapi sebagai ruang dialog. Dalam sikap itulah kita melihat kepemimpinan yang ngayomi: tidak alergi pada kritik, tidak takut pada perbedaan, dan tidak canggung untuk mendengar suara yang paling lemah.

Sering kali kita menjumpai praktik kepemimpinan yang lebih mirip tukang kebun yang mencabut tanaman yang tumbuh miring, alih-alih meluruskannya. Kesalahan langsung dihukum, kerapuhan segera disingkirkan. Padahal dalam falsafah Jawa, tugas pemimpin adalah momong, ngemong, lan ngopeni—mengasuh, membimbing, dan merawat. Dalam tradisi Aswaja, yang lemah tidak serta-merta disalahkan, melainkan dibimbing agar kembali kuat dan bermartabat. Yang rapuh bukan musuh, melainkan amanah.

Apabila suatu tempat kerja atau lembaga lebih banyak melahirkan sikap diam daripada kepercayaan, lebih banyak ketakutan daripada semangat untuk tumbuh, maka yang patut dievaluasi bukan semata-mata mereka yang dipimpin, melainkan juga mereka yang memimpin. Dalam falsafah Jawa dikenal ungkapan sepi ing pamrih, rame ing gawe: tidak sibuk mengejar kepentingan diri, tetapi sungguh-sungguh bekerja untuk kemaslahatan bersama. Dalam Aswaja, kepemimpinan dipahami sebagai jalan khidmah—pengabdian, bukan dominasi.

Pada akhirnya, pengelolaan manusia tidak dapat dipisahkan dari kebijaksanaan batin. Tanpa itu, sistem hanya akan melahirkan kepatuhan tanpa kepercayaan, disiplin tanpa kasih sayang, dan keteraturan tanpa makna. Kepemimpinan yang ngayomi bukanlah menara kecil kekuasaan, melainkan ruang teduh tempat setiap orang merasa aman untuk tumbuh.

Gus Dur pernah berkata dengan gaya khasnya yang sederhana namun dalam, “Gitu saja kok repot.” Ungkapan ini bukan ajakan untuk menyepelekan persoalan, melainkan pengingat agar kita tidak mempersulit urusan kemanusiaan dengan ego, gengsi, dan prosedur yang kehilangan ruhnya.

Maka, kepemimpinan yang ngayomi sejatinya adalah kepemimpinan yang memudahkan manusia untuk menjadi manusia. Bukan sekadar mengatur, melainkan merawat. Bukan hanya memerintah, tetapi juga mendengarkan. Dan bukan sekadar berkuasa, melainkan mengabdi.

Leave a Comment:
Bagikan
Kode barcode SPMB SMK Ma'arif 9 Kebumen