LINK Pendaftaran SPMB SMK Ma'arif 9 Kebumen

Pohon yang Lupa Akar Sebuah Refleksi Krisis Kesadaran Asal-usul

Category : Ruang Opini | Sub Category : Ruang Opini | Posted on 2026-01-29 05:54:46


Pohon yang Lupa Akar  Sebuah Refleksi Krisis Kesadaran Asal-usul

Pohon yang Lupa Akar

Sebuah Refleksi Krisis Kesadaran Asal-usul


Oleh: Aji Priyo Utomo

Bagaimana mungkin pohon tumbuh melupakan eksistensi akar? Pertanyaan pemantik ini tampak sederhana, nyaris remeh. Namun di dalamnya tersembunyi kegelisahan besar tentang manusia, masyarakat, dan kekuasaan tentang bagaimana sesuatu bisa menjulang tinggi sambil menyangkal apa yang menopangnya sejak mula.

Secara biologis, pohon tak pernah lupa akar. Akar bekerja diam-diam, dalam kesunyian, tak terlihat bergerak di labirin gelap tanah. Namun justru gerak itulah satu-satunya alasan batang dapat berdiri dan daun mampu menangkap sorot cahaya. Akar tidak tampil, tetapi menentukan.

Dalam dunia manusia, justru sering terjadi sebaliknya. Semakin tinggi seseorang, makin sering ia lupa tanah tempat ia tumbuh. Di situlah tragedi eksistensial bermula.

Akar, secara filosofis, bukan sekadar asal-usul genealogis. Ia adalah simbol fondasi ontologis: keluarga, nilai, sejarah, penderitaan, relasi sosial, dan pengalaman pertama tentang keterbatasan. Martin Heidegger menyebut manusia sebagai makhluk yang “dilempar” ke dunia (Geworfenheit). Kita tidak memilih tempat lahir, bahasa pertama, atau luka awal. Semua itu adalah akar. Tanpa kesadaran akan akar, keberadaan menjadi dangkal tampak kuat, tetapi sesungguhnya rapuh.

Modernitas mengajarkan kita memuja batang dan daun. Kita mengagungkan pencapaian, jabatan, gelar, angka, statistik, dan citra. Yang dipamerkan adalah ketinggian, bukan kedalaman. Akar dianggap kuno: terlalu lambat, terlalu kotor, terlalu dekat dengan tanah. Padahal justru di sanalah nutrisi moral dan eksistensial diserap.

Ketika pohon melupakan akar, yang terjadi adalah alienasi: keterputusan dari diri sendiri, dari sesama, dan dari makna. Bayangkan batang yang menjulang tetapi tak lagi menyapa tanahnya. Ia hidup dari nutrisi yang tak mau diakuinya. Ia memanen hasil dari sesuatu yang ingin ia lupakan.

Dalam konteks kekuasaan, amnesia terhadap akar menjadi jauh lebih berbahaya. Kekuasaan lahir dari mandat, dari kepercayaan, dari penderitaan kolektif yang berharap diwakili. Semua itu adalah akar. Namun ketika kursi sudah empuk, akar sering dianggap beban. Ia tak lagi dilihat sebagai sumber legitimasi, melainkan sebagai gangguan stabilitas. Rakyat diposisikan sebagai angka, bukan wajah. Sejarah dijadikan slogan, bukan pelajaran. Penderitaan masa lalu dijadikan dekorasi pidato, bukan kompas etika.

Akar menuntut kerendahan hati. Ia mengingatkan bahwa tidak ada ketinggian tanpa tanah. Dalam etika Emmanuel Levinas, keberadaan kita selalu ditagih oleh “Yang Lain” oleh wajah yang pertama kali menyapa kita dengan kebutuhan. Etika bukan sekadar aturan, melainkan fondasi keberadaan. Akar adalah wajah pertama itu: ibu, buruh, petani, Pendiri, guru, kawan, orang kecil, dan semua yang memungkinkan kita menjadi “kita”. Melupakan mereka berarti memutus hubungan paling dasar antara eksistensi dan tanggung jawab.

Masyarakat modern sering memproduksi individu seperti pohon plastik: tampak rimbun, hijau, mengilap, tetapi tak punya akar. Ia tak butuh tanah, tak butuh air, tak butuh kesetiaan, ia hanya butuh panggung. Di dunia seperti ini, yang penting bukan lagi dari mana kita berasal, melainkan bagaimana kita tampak. Citra mengalahkan asal-usul. Persepsi mengalahkan kedalaman.

Namun sejarah berkali-kali mengajarkan: pohon tanpa akar tidak mati karena tinggi, melainkan karena badai. Krisis, konflik, ketidakadilan, dan kemarahan publik adalah angin yang menguji apakah yang berdiri itu benar-benar pohon atau sekadar properti panggung. Mereka yang lupa akar biasanya kaget saat rubuh. Padahal tanda-tandanya sudah lama: kepekaan tumpul, empati menipis, bahasa menjadi teknokratis, dan etika diganti prosedur.

Eksistensi akar bukan nostalgia, bukan sekadar romantisme masa lalu. Ia adalah etika kehadiran: kesediaan untuk terus kembali ke tanah. Mendengar suara yang tak terdengar. Mengakui bahwa kita berdiri di atas kerja orang lain. Menyadari bahwa kekuasaan bukan mahkota, melainkan amanah.

Pohon yang sehat bukan yang paling tinggi, melainkan yang paling setia pada akarnya. Ia boleh menjulang, boleh rimbun, boleh berbuah. Tetapi ia tahu: hidupnya ditentukan oleh sesuatu yang tak pernah ia lihat langsung. Dan justru karena itu, ia tak boleh sombong.

Maka pertanyaan “bagaimana mungkin pohon tumbuh melupakan eksistensi akar?” adalah peringatan. Bukan tentang pohon, melainkan tentang kita. Tentang manusia yang lupa asal-usulnya. Tentang kekuasaan yang lupa mandatnya. Tentang peradaban yang lupa tanah tempat ia berdiri.

Sebab eksistensi tanpa ingatan adalah kesombongan,
dan pertumbuhan tanpa akar hanyalah penundaan rubuh.


Ruang Ngopi, Karangrejo, Kebumen
29 Januari 2026

Leave a Comment:
Bagikan
Kode barcode SPMB SMK Ma'arif 9 Kebumen