Pondasi yang Dilupakan (Laku Jawa, Kesadaran Descartes, dan Etika Kekuasaan)
Category : Ruang Opini | Sub Category : Ruang Opini | Posted on 2026-01-25 11:48:50
Pondasi yang Dilupakan
(Laku Jawa, Kesadaran Descartes, dan Etika Kekuasaan)
Oleh : Aji Priyo Utomo
Sebagus apa pun sebuah rumah, tanpa pondasi ia hanya menunggu waktu untuk roboh. Cat bisa diperbarui, atap bisa diganti, furnitur bisa dipindah. Tetapi yang menentukan apakah rumah itu bertahan bukanlah rupa, melainkan akar. Pondasi diletakkan pada saat paling sunyi dalam pembangunan: ketika orang-orang menggali tanah dan menanam masa depan pada sesuatu yang tak tampak.
Dalam laku Jawa, yang tak tampak justru yang paling menentukan. Sangkan paraning dumadi sebuah kesadaran dari mana kita berasal dan ke mana kita menuju adalah akar batin. Rumah tanpa pondasi adalah manusia tanpa eling. Lembaga tanpa ingat asal-usul adalah kekuasaan tanpa arah nurani.
Pondasi sekolah bukan semen dan besi, melainkan cita-cita dan etika yang diwariskan. Dan itu pertama-tama ditanam oleh para pendiri. Mereka bekerja tanpa panggung. Menanam arah ketika belum ada gedung, belum ada sponsor, belum ada tepuk tangan. Mereka membangun rumah dengan tangan sendiri, sementara kita datang belakangan, tinggal menempatinya.
Dalam falsafah Jawa, orang yang lupa asal disebut wong kelangan jati diri. Ia sibuk memoles rupa, tapi tak lagi menjaga roso. Ia ingin tampak maju, tetapi batinnya mundur.
Sesungguhnya kita bukan pemilik, melainkan tamu di rumah yang telah mereka bangun. Kita sebatas boleh mengganti warna cat temboknya. Penghuni boleh berganti. Jabatan bisa berpindah. Tetapi rumah yang baik selalu ingat siapa yang menanam batu pertamanya. Karena ketika pendiri dilupakan, yang runtuh bukan hanya sejarah, tetapi juga makna.
Descartes mengingatkan kita:
" cogito, ergo sum "aku berpikir, maka aku ada.
Eksistensi lahir dari kesadaran. Maka orang yang duduk di kursi kekuasaan hanya sungguh “ada” sejauh ia sadar siapa dirinya: sadar bahwa ia bukan pemilik makna, hanya penjaga sementara.
Di sinilah etika masuk sebagai pagar. Kekuasaan tanpa kesadaran diri melahirkan kesewenang-wenangan. Kursi yang tidak disertai eling berubah menjadi tahta. Jabatan yang kehilangan roso berubah menjadi alat pembenaran diri.
Bisa jadi saat kita datang, rumah itu sudah besar: furnitur tertata, taman luas, bunga-bunga bermekaran. Namun semua itu tak akan pernah ada jika pondasinya tidak lebih dulu ditanam. Dalam bahasa Jawa:
"urip iku kudu eling lan waspada "ingat asal, waspada arah.
Ketika jasa pendiri dilupakan, yang rusak bukan hanya hubungan antar-generasi, tetapi juga arah moral lembaga. Sebab pendiri bukan sekadar masa lalu mereka adalah kompas. Mereka bukan hanya nama, tetapi laku yang dulu dihidupi.
Dalam falsafah Jawa, kekuasaan sejati adalah "hamemayu hayuning bawana "merawat agar dunia tetap elok, bukan memaksa dunia tunduk pada ego. Maka pemimpin yang etis bukan yang paling keras memerintah, melainkan yang paling lembut menjaga makna.
Menghormati pendiri bukan berarti membekukan perubahan. Dalam laku Jawa: "obah nanging ora owah " Bergerak, tetapi tidak kehilangan diri. Kita boleh memperbarui metode, memperbaiki sistem, mengganti struktur. Tetapi nilai dasar yang ditanam para pendiri harus tetap menjadi rujukan.
Lembaga yang besar bukan yang paling sering memuji dirinya sendiri, melainkan yang paling jujur mengakui siapa yang membuatnya mungkin.
Kebumen, 25 Januari 2026
Cari
Kategori
Artikel Terbaru
- Buku Sejarah SMP Ma’arif 3 Kebumen Diserahkan Secara Simbolis Jelang Kajian Ilmu Falak Harlah NU Abad Ke-1
- Pohon yang Lupa Akar Sebuah Refleksi Krisis Kesadaran Asal-usul
- SMK Ma’arif 9 Kebumen Mulai Bangun GOR, Perkuat Fasilitas Pendidikan Vokasi
- Cinta, Nurani, dan Ketahanan Batin Kita
- Pikulan Mlebu Rasane Kawulo: Ketika Kekuasaan Kehilangan Adab
- Gelas Retak Bernama Wewenang: Satir Kekuasaan yang Lupa Amanah
- Ngayomi: Memimpin dengan Kemanusiaan
- Pondasi yang Dilupakan (Laku Jawa, Kesadaran Descartes, dan Etika Kekuasaan)

