Pendidikan di Negeri Kita: Antara Kemerdekaan dan Globalisasi
Category : Ruang Opini | Sub Category : Ruang Opini | Posted on 2026-01-15 05:13:27
Pendidikan di Negeri Kita: Antara Kemerdekaan dan Globalisasi
“Pendidikan bukanlah sekadar mengejar gelar atau pekerjaan, melainkan upaya menemukan jati diri yang merdeka dan bermartabat.” – Ki Hajar Dewantara
Oleh: Aji Priyo Utomo
Di era globalisasi ini, dunia bergerak dengan kecepatan luar biasa. Informasi melintas dalam sekejap, teknologi berkembang tanpa henti, dan kompetisi antarbangsa semakin ketat. Indonesia, sebagai bangsa yang merdeka, menghadapi tantangan besar: bagaimana mencerdaskan rakyatnya dan membebaskan generasi muda dari belenggu kebodohan yang masih tersisa sejak masa penjajahan.
B.J. Habibie pernah menegaskan bahwa abad ke-21 adalah abad ilmu pengetahuan dan teknologi. Artinya, masa depan bangsa ditentukan oleh kualitas sumber daya manusianya. Bangsa yang mampu berkompetisi di bidang iptek akan menjadi bangsa besar, adidaya, dan sejahtera. Sebaliknya, yang gagal akan tertinggal, terpinggirkan, bahkan kehilangan identitasnya.
Pendidikan nasional bukan sekadar ruang belajar. Ia adalah alat pemersatu warga negara, sarana menanamkan nilai-nilai luhur, dan benteng bagi generasi muda menghadapi arus globalisasi. Globalisasi memang membuka peluang: ilmu dan teknologi dapat diakses dengan mudah, dunia menjadi “desa global” di ujung jari. Namun, sisi gelapnya juga nyata: konsumerisme, gaya hidup bebas, narkoba, dan kriminalitas mengintai generasi kita.
Masa depan bangsa ini bergantung pada bagaimana pendidikan dijalankan. Pendidikan seharusnya membentuk generasi yang cerdas, berkarakter, dan merdeka, bukan sekadar mengejar angka dan gelar. Hamka menekankan bahwa tujuan pendidikan adalah membentuk manusia yang berguna, penuh kemanusiaan, cinta persaudaraan, dan merdeka dalam berpikir. Pendidikan yang tidak menuju ke arah itu, justru menghancurkan potensi yang diberikan Tuhan.
Sayangnya, di Indonesia, masih banyak anak-anak yang tidak diberikan kebebasan berpikir di kelas. Pendidik terkadang memperlakukan siswa sebagai “bejana kosong” yang harus diisi tanpa memperhatikan minat dan bakat mereka. Padahal, setiap anak lahir dengan potensi unik yang harus dikembangkan.
Saya membayangkan sebuah masa di mana anak-anak bebas mengekspresikan kreativitasnya, belajar sesuai minatnya, dan berpikir tanpa takut pada angka atau huruf yang menekan. Di mana pendidik menyadari tanggung jawabnya bukan hanya mengajar, tetapi memerdekakan pikiran dan membimbing karakter.
Jika visi ini dijalankan, pendidikan Indonesia tidak hanya mencetak manusia cerdas secara akademik, tetapi juga merdeka, bermartabat, dan siap menghadapi tantangan global tanpa kehilangan identitasnya. Saat itulah bangsa ini akan benar-benar merdeka—bukan sekadar di atas kertas, tetapi di hati dan pikirannya.
Daftar Pustaka:
Ali, Mohammad. 2012. Ilmu dan Aplikasi Pendidikan. Bandung: PT Imperal Bhakti Utama.
Hamka. 1984. Falsafah Hidup. Jakarta: Pustaka Panjimas.
Samani, Muchlas, Hariyanto. 2012. Konsep dan Model Pendidikan Karakter. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Syam, Firdaus. 2009. Renungan B.J. Habibie Membangun Peradaban Indonesia. Jakarta: Gema Insani.
Saidi, Iwan Acep. 2006. Matinya Dunia Sastra Biografi Pemikiran & Tatapan Terberai karya Sastra Indonesia. Yogyakarta: Pilar Media.
Cari
Kategori
Artikel Terbaru
- Buku Sejarah SMP Ma’arif 3 Kebumen Diserahkan Secara Simbolis Jelang Kajian Ilmu Falak Harlah NU Abad Ke-1
- Pohon yang Lupa Akar Sebuah Refleksi Krisis Kesadaran Asal-usul
- SMK Ma’arif 9 Kebumen Mulai Bangun GOR, Perkuat Fasilitas Pendidikan Vokasi
- Cinta, Nurani, dan Ketahanan Batin Kita
- Pikulan Mlebu Rasane Kawulo: Ketika Kekuasaan Kehilangan Adab
- Gelas Retak Bernama Wewenang: Satir Kekuasaan yang Lupa Amanah
- Ngayomi: Memimpin dengan Kemanusiaan
- Pondasi yang Dilupakan (Laku Jawa, Kesadaran Descartes, dan Etika Kekuasaan)

