Luka Abadi
Category : Ruang Sastra | Sub Category : Ruang Sastra | Posted on 2026-01-15 19:19:30
Luka Abadi
Sejak kapan gerimis
menjadi bahasa kesedihan
yang turun diam-diam
di pekarangan hati?
Bila gerimis tiba di halamanmu
jangan kau seduh kopi hitam
dengan air mata.
Kesedihan tidak pernah pandai
menghangatkan harapan.
Aku akan datang
membawa payung yang bocor oleh doa-doa.
Menjemputmu. Dan mari kita pergi
mencari kekasih yang bernama keadilan.
Di bawah kibaran gerimis
bermandikan kilat dan petir
orang-orang mulai kehilangan ingatan.
Mereka sibuk bercumbu di kamar masing-masing,
sementara suara Tuhan dipetik seperti gitar tua
di mimbar kepalsuan:berdengung,
tetapi tak pernah menyentuh
luka kemanusiaan.
Kau berdiri
menatap jendela gedung bertingkat
dengan mata kosong.
Di balik kaca itu masa depan dijual eceran.
Sementara pribumi digiring pelan-pelan
ke kampung pinggiran,
ke kubangan limbah,
ke bau busuk sisa pabrik..
Aku heran pada sikap kita,
pola pikir kita ,rasa kita.
Katanya negeri ini merdeka.
Namun kita tetap membajak sawah
seperti kerbau di tanah milik sendiri.
Bila gerimis tiba di pekarangan,
apa guna ladang minyak,emas, intan, permata,
hutan, sungai, rawa,danau dan lautan,
jika dirampok bangsa lain? Yang tersisah anya limbah,
dan alam yang koyak
seperti tubuh tanpa penjahit.
Pejabat dan elit politik
terlalu sering menjilat ludahnya sendiri.
Mereka sibuk mencari permadani,
berebut kursi perak,
sementara kepentingan bangsa
tertinggal di lorong gelap.
Di mana manusia
bila kemanusiaan disandera
di setiap sudut negeri?
Para cukong menyerbu istana,
menunggu jatah proyek langit
dari penguasa.
Boneka-boneka Pinokio
dengan hidung semakin panjang
menyebut kebohongans ebagai strategi.
Aku datang menjemputmu
di bawah gerimis
di taman jati.
Menunggu bermekaran ilalang—
kembang yang tak butuh pujian manusia.
Ia mekar
bukan untuk sorak sorai,
bukan untuk kamera,
melainkan
untuk semesta yang masih setia
pada kejujuran.
Ruang Ngopi, nyiur Dewantara
Cari
Kategori
Artikel Terbaru
- Buku Sejarah SMP Ma’arif 3 Kebumen Diserahkan Secara Simbolis Jelang Kajian Ilmu Falak Harlah NU Abad Ke-1
- Pohon yang Lupa Akar Sebuah Refleksi Krisis Kesadaran Asal-usul
- SMK Ma’arif 9 Kebumen Mulai Bangun GOR, Perkuat Fasilitas Pendidikan Vokasi
- Cinta, Nurani, dan Ketahanan Batin Kita
- Pikulan Mlebu Rasane Kawulo: Ketika Kekuasaan Kehilangan Adab
- Gelas Retak Bernama Wewenang: Satir Kekuasaan yang Lupa Amanah
- Ngayomi: Memimpin dengan Kemanusiaan
- Pondasi yang Dilupakan (Laku Jawa, Kesadaran Descartes, dan Etika Kekuasaan)

