LINK Pendaftaran SPMB SMK Ma'arif 9 Kebumen

Kursi Tak Pernah Menua

Category : Ruang Opini | Sub Category : Ruang Opini | Posted on 2026-01-22 12:27:03


Kursi Tak Pernah Menua

Kursi Tak  Pernah Menua

Ada benda yang tampak sepele, tapi menyimpan riwayat panjang: kursi. Ia hanya perabot. Diam. Tak membantah. Namun justru karena itu, ia sering jadi rebutan. Kursi memberi posisi. Dan posisi memberi rasa aman—atau setidaknya, ilusi tentang aman.

Sebuah kalimat sederhana menyebut: “Kursi kadang berat dibawa, tapi enak diduduki.” Yang berat bukan kursinya, melainkan tanggung jawab yang seharusnya menyertai posisi. Tapi yang dicari justru empuknya. Maka sejak dulu, kursi tak pernah benar-benar netral. Ia selalu terkait dengan siapa yang berhak memerintah, siapa yang harus patuh, dan siapa yang cukup berdiri.

Karena itu kursi sering diperebutkan.

Di ruang publik kita melihatnya lebih jelas. Di kantor, jabatan diwariskan lewat senioritas, bukan kompetensi. Di lembaga, suara paling tua sering dianggap paling benar, meski tak selalu paling jernih. Di politik, kursi kekuasaan dipertahankan seperti hak milik pribadi—seolah masa jabatan adalah usia biologis yang tak boleh dipotong.

Yang muda diminta sabar. Yang lama diminta dimaklumi.

Di rumah pun begitu. Orang tua berkata, “Dulu pekerjaan Ayah lebih berat.” “Dulu Ibu lebih capek.” Itu bukan sekadar nostalgia. Itu klaim moral: kami lebih pantas. Padahal anak-anak hidup di zaman lain, dengan tekanan yang juga lain. Biaya hidup naik, ruang kerja menyempit, kompetisi makin brutal. Ukuran “berat” hari ini tak bisa diukur dengan timbangan masa lalu.

Namun tanpa disadari, banyak orang dewasa justru kembali seperti anak kecil—takut kursinya direbut, takut posisinya digeser, takut tak lagi dianggap perlu.

Di sini kursi menjelma simbol kekuasaan kecil yang bekerja di mana-mana: di keluarga, di sekolah, di birokrasi, di partai, di kampus. Siapa yang duduk paling depan, siapa yang didengar, siapa yang merasa paling berhak bicara.

Dalam filsafat Jawa, “tua” tidak semata diukur dari umur. Sepuh bukan soal uban, melainkan soal kawruh lan laku. Yang benar-benar tua adalah mereka yang matang batinnya: tahu kapan memimpin, kapan memberi jalan. Ada andhap asor—rendah hati. Ada tepa slira—mampu menempatkan diri. Ada empan papan—tahu tempat, tahu waktu, tahu kadar.

Semua itu adalah etika batin agar seseorang tak merasa paling berhak atas kursi hanya karena lebih dulu datang atau lebih lama hidup.

Sayangnya, usia sering dijadikan alasan untuk menguasai, bukan untuk ngemong. Padahal ada pepatah: sing sepuh kudu bisa ngemong. Yang tua seharusnya mengasuh, bukan menekan. Membimbing, bukan membungkam.

Di titik ini, pertanyaannya tak bisa lagi dihindari:
apakah seseorang pantas dihormati hanya karena umurnya, ketika perbuatannya tidak mencerminkan kedewasaan?

Hormat memang nilai penting. Tapi hormat bukan upah otomatis dari usia. Ia tumbuh dari sikap. Dari teladan. Dari keberanian untuk adil—bahkan kepada yang lebih muda, bahkan kepada yang berbeda.

Kita sering keliru menyamakan senioritas dengan kebijaksanaan. Padahal lama hidup tidak selalu berarti lama belajar. Seseorang bisa tua di KTP, tapi masih kanak-kanak dalam laku. Ia ingin selalu didahulukan, selalu dimenangkan, selalu didudukkan di kursi empuk—tanpa mau memikul beban yang menyertainya.

Itulah sebabnya persoalan kursi selalu terasa lucu sekaligus menyedihkan. Lucu, karena orang dewasa bisa kembali kekanak-kanakan demi sebuah posisi. Menyedihkan, karena kursi yang seharusnya dipakai untuk bekerja justru dipeluk seperti mainan mahal.

Dalam masyarakat yang sehat, kursi bukan tujuan. Ia hanya alat. Yang penting bukan siapa yang duduk, melainkan apa yang ia kerjakan ketika sudah duduk.

Dan lebih penting lagi:
apakah ia siap berdiri, ketika waktunya berdiri.

Jika tidak, biarlah kursi itu kosong. Karena kekuasaan yang disematkan pada orang yang tidak dewasa hanyalah sandiwara publik—dan sandiwara paling menyakitkan adalah yang semua lihat, tapi sedikit yang berani menegur. Kursi tak pernah menua, tapi orang-orang yang duduk di atasnya sering kali masih kanak-kanak.


Leave a Comment:
Bagikan
Kode barcode SPMB SMK Ma'arif 9 Kebumen