Konseling yang Menyembuhkan, Bukan Sekadar Ceramah
Category : Ruang Opini | Sub Category : Ruang Opini | Posted on 2026-01-23 09:14:44
Konseling yang Menyembuhkan, Bukan Sekadar Ceramah
Di banyak sekolah, ruang Bimbingan dan Konseling masih kerap dipersepsikan sebagai “ruang sidang kecil”. Siswa dipanggil, duduk berhadapan dengan guru, lalu menerima nasihat panjang yang lebih mirip khutbah moral ketimbang dialog. Konseling, dalam praktik seperti ini, berhenti sebagai ceramah. Padahal, hakikat konseling bukanlah menggurui, melainkan menyembuhkan.
Dalam falsafah hidup orang Jawa dikenal laku ngemong: merawat, membersamai, dan menuntun tanpa memaksa. Seorang yang dituakan bukan karena suaranya paling keras, melainkan karena kemampuannya ngemong urip—mendampingi kehidupan orang lain agar tumbuh dengan selamat. Konseling sejatinya berada di wilayah itu: bukan mengendalikan, melainkan menumbuhkan.
Secara normatif, arah kebijakan pendidikan terbaru—kelanjutan Kurikulum Merdeka menuju kebijakan 2026—menekankan pembelajaran yang lebih bermakna, berpusat pada murid, dan memperhatikan kesejahteraan psikologis peserta didik. Profil Pelajar Pancasila tidak lagi dimaknai sekadar sebagai daftar karakter, melainkan sebagai keutuhan: kognitif, sosial, dan emosional. Namun dalam praktik, sekolah masih lebih sibuk mengejar rapor, asesmen, dan citra institusi. Jiwa siswa sering tertinggal di luar tabel penilaian.
Dalam sistem seperti ini, BK mudah direduksi menjadi alat penertiban. Konselor ditarik ke logika “pengamanan sekolah”, bukan “penyelamatan manusia”. Siswa datang membawa kegelisahan, pulang membawa rasa bersalah. Mereka dicari kesalahannya, bukan dipahami pergumulannya. Ini bukan semata soal individu guru BK, melainkan cermin dari sistem yang lebih suka mengontrol daripada merawat.
Padahal regulasi tetap menempatkan BK sebagai layanan pengembangan pribadi, sosial, belajar, dan karier. Dalam desain kebijakan terbaru, isu kesehatan mental, iklim sekolah yang aman, dan relasi guru–murid bahkan disebut sebagai bagian dari mutu pendidikan. Namun di lapangan, rasio konselor dan siswa masih timpang. Satu guru BK bisa menangani ratusan siswa. Dalam kondisi demikian, konseling mudah berubah menjadi administrasi kasus, bukan pendampingan jiwa.
Orang Jawa mengenal prinsip eling lan waspada: sadar diri dan peka pada keadaan. Kesadaran itu seharusnya dimiliki para pembuat kebijakan. Mereka perlu waspada bahwa generasi muda hari ini hidup di dunia yang jauh lebih kompleks—media sosial, tekanan prestasi, krisis identitas, dan kesepian digital. Mereka tidak membutuhkan lebih banyak ceramah moral, tetapi lebih banyak ruang aman.
Konseling yang menyembuhkan berangkat dari mendengar, bukan menghakimi. Ia dekat dengan semangat tepa selira: kemampuan menempatkan diri pada perasaan orang lain. Dalam kerangka ini, konselor hadir bukan sebagai hakim, melainkan sebagai pendamping yang membantu siswa menata ulang cara pandangnya terhadap diri dan dunia.
Namun bagaimana mungkin konseling bisa menyembuhkan jika jam BK dipersempit, peran konselor dipinggirkan, dan keberhasilan sekolah diukur dari minimnya “kasus”, bukan dari pulihnya jiwa? Di titik ini, kritik harus diarahkan pada negara: kebijakan pendidikan terlalu sibuk mengatur perilaku, tetapi lalai merawat batin.
Kita perlu menggeser paradigma: dari konseling sebagai alat disiplin menuju konseling sebagai ruang kemanusiaan. Pendidikan bukan semata mencetak kepatuhan, melainkan menumbuhkan keutuhan. Dan keutuhan, dalam kebijaksanaan Jawa, lahir ketika seseorang merasa diemong, bukan dihakimi.
Jika ruang BK terus diperlakukan seperti ruang interogasi, jangan heran jika anak-anak kita tumbuh patuh tetapi rapuh. Negara mungkin berhasil mencetak generasi yang tertib, tetapi gagal melahirkan manusia yang utuh.
Konseling yang menyembuhkan bukan kemewahan. Ia adalah kebutuhan dasar. Dan tugas negara bukan hanya mengatur sekolah, melainkan menjaga kewarasan generasi.
Cari
Kategori
Artikel Terbaru
- Buku Sejarah SMP Ma’arif 3 Kebumen Diserahkan Secara Simbolis Jelang Kajian Ilmu Falak Harlah NU Abad Ke-1
- Pohon yang Lupa Akar Sebuah Refleksi Krisis Kesadaran Asal-usul
- SMK Ma’arif 9 Kebumen Mulai Bangun GOR, Perkuat Fasilitas Pendidikan Vokasi
- Cinta, Nurani, dan Ketahanan Batin Kita
- Pikulan Mlebu Rasane Kawulo: Ketika Kekuasaan Kehilangan Adab
- Gelas Retak Bernama Wewenang: Satir Kekuasaan yang Lupa Amanah
- Ngayomi: Memimpin dengan Kemanusiaan
- Pondasi yang Dilupakan (Laku Jawa, Kesadaran Descartes, dan Etika Kekuasaan)

