LINK Pendaftaran SPMB SMK Ma'arif 9 Kebumen

Nurani dan Bahaya Kompromi Kecil

Category : Ruang Opini | Sub Category : Ruang Opini | Posted on 2026-01-23 21:33:37


Nurani dan Bahaya Kompromi Kecil

Nurani dan Bahaya Kompromi Kecil

Oleh : Aji Priyo Utomo

"Sekali nurani mati, manusia memang masih bisa hidup secara sosial—punya jabatan, peran, dan pengaruh—tetapi ia kehilangan pusat moralnya."

Kejahatan besar hampir selalu bermula dari sesuatu yang tampak kecil: diam yang dibiarkan, keberanian yang ditunda, dan suara batin yang disuruh menunggu. Jarang sekali keburukan lahir dari satu lompatan ekstrem. Ia tumbuh pelan, dari kebiasaan berkompromi dengan hal-hal yang sebenarnya kita tahu salah.

Di titik itulah nurani diuji. Bukan oleh kejahatan yang terang-terangan, melainkan oleh keburukan yang rapi: dikemas sebagai prosedur, dibungkus sebagai kebijakan, dan dijelaskan dengan bahasa yang terdengar rasional. Kita diajak menerima yang keliru sebagai “kenyataan”, dan yang benar sebagai sesuatu yang “tidak praktis”.

Padahal nurani bukan sekadar perasaan halus. Ia adalah kompas moral. Dan kompas yang mulai diabaikan tidak langsung membuat kita tersesat. Kita masih bisa berjalan, bekerja, bahkan memimpin. Tetapi arah yang kita tuju perlahan berubah. Kita tetap bergerak, namun makin jauh dari kebenaran.

Gus Dur pernah mengingatkan, “Yang lebih penting dari politik adalah kemanusiaan.” Kalimat sederhana itu menegaskan bahwa ukuran utama tindakan publik bukanlah kepentingan, jabatan, atau kemenangan, melainkan apakah ia masih berpihak pada martabat manusia. Ketika kebijakan, aturan, atau perintah mulai mengabaikan sisi kemanusiaan, di situlah nurani seharusnya bicara.

Merawat keberanian untuk berkata “tidak” ketika yang salah disuruh menjadi benar adalah tugas yang sunyi. Ia tidak selalu heroik. Ia sering justru membuat seseorang dianggap merepotkan, tidak kooperatif, atau tidak tahu diri. Dalam sistem yang mengagungkan kepatuhan, suara nurani kerap diperlakukan sebagai gangguan.

Di sinilah perbedaan antara diam yang bijak dan diam yang mengkhianati diri. Ada saatnya diam adalah bentuk kehati-hatian. Tetapi ada juga saat diam berarti ikut membiarkan ketidakadilan bekerja. Masalahnya, kita sering menyamarkan rasa takut sebagai kebijaksanaan, dan menyebut kenyamanan sebagai kedamaian.

Saya belajar bahwa kapan harus bicara dan kapan harus menahan diri bukan soal strategi semata, melainkan soal menjaga agar nurani tetap hidup. Sebab sekali nurani mati, manusia memang masih bisa hidup secara sosial—punya jabatan, peran, dan pengaruh—tetapi ia kehilangan pusat moralnya.

Kita hidup di zaman ketika yang salah bisa tampak legal, dan yang benar bisa tampak subversif. Ketika kritik dicurigai, dan kepatuhan dipuji tanpa syarat. Dalam situasi seperti ini, godaan terbesar bukan menjadi jahat, melainkan menjadi terbiasa.

Gus Dur juga pernah berkata, “Tidak penting apa pun agama atau sukumu, kalau kamu bisa melakukan sesuatu yang baik untuk semua orang, orang tidak pernah tanya apa agamamu.” Kutipan ini menegaskan bahwa nurani bekerja lintas identitas. Ia tidak bertanya siapa kita, tapi apa yang kita lakukan terhadap sesama.

Di titik itulah rasa malu dan kegelisahan menjadi penting. Malu saat berbuat keliru, gelisah saat melihat ketidakadilan—itu bukan kelemahan. Itu tanda bahwa seseorang masih memiliki sistem peringatan batin. Selama seseorang masih bisa gelisah, ia belum sepenuhnya menyerah sebagai manusia.

Dalam percakapan-percakapan kecil dengan anak-anak dan orang-orang muda, saya sering mengatakan: jangan takut berbeda. Tapi takutlah jika suatu hari hati kalian tidak lagi bergetar saat melihat yang salah. Sebab yang paling berbahaya bukanlah orang jahat, melainkan orang baik yang terlalu lama berkompromi.

Kejahatan besar dibesarkan oleh kompromi kecil yang dianggap wajar. Oleh kalimat, “sudah biasa begitu.” Oleh logika, “semua juga melakukannya.” Dari sanalah nurani pelan-pelan kehilangan suaranya.

Menjaga nurani tetap hidup memang tidak nyaman. Ia menuntut risiko: tidak disukai, disalahpahami, bahkan disingkirkan. Tetapi itulah harga agar kita tetap manusia—bukan sekadar roda dalam mesin kekuasaan.

Pada akhirnya, yang menentukan nilai seseorang bukanlah seberapa tinggi ia naik, melainkan seberapa setia ia pada suara batinnya. Sebab suara batin, sekali mati, tidak bisa digantikan oleh apa pun.

Leave a Comment:
Bagikan
Kode barcode SPMB SMK Ma'arif 9 Kebumen