Meja Ngopi, Sunyi, dan Amarah Kresna
Category : Ruang Opini | Sub Category : Ruang Opini | Posted on 2026-01-24 09:18:58
Meja Ngopi, Sunyi, dan Amarah Kresna
Oleh : Aji Priyo Utomo
Dalam falsafah Jawa, diam bukan selalu emas. Ada satu ajaran halus tapi tegas:
Aku pernah percaya bahwa diam adalah bentuk tertinggi dari kedewasaan. Bahwa dengan menutup mulut, dunia akan berhenti menuntut. Bahwa dengan menahan kata, hati akan menemukan damai. Maka aku belajar menjadi sunyi—seperti daun kering yang pura-pura jatuh karena angin, padahal ia memilih jatuh agar tak lagi diminta bertahan.
Tetapi di meja ngopi yang sama setiap pagi, aku mulai merasakan sesuatu yang lain, sejak ia memilih jalan, mengalah, ngalih. Namun, menyakitkan bagiku. Cangkir kopi itu seperti cermin kecil: pahit, hangat, dan memantulkan wajah yang tidak bisa lagi kusembunyikan. Di sanalah rasa yang kupendam tidak mati. Ia justru membara.
Aku mengerti kini: diam yang tidak jujur hanyalah penundaan. Kita menyimpan kegelisahan di sudut jiwa seperti kayu kering di gudang batin—tampak rapi, tapi siap menyala kapan saja. Kita menyebutnya tenang, padahal itu hanya takut yang disamarkan sebagai kebijaksanaan.
Filsafat Jawa tidak pernah memuliakan kepatuhan buta. Yang dimuliakan adalah eling lan waspada kesadaran dan kewaspadaan. Diam boleh, asal tidak mengkhianati kebenaran. Sebab ketika salah dibiarkan, dan yang lemah tidak dibela, sunyi berubah menjadi bentuk kekerasan yang halus.
Di sinilah aku teringat Kresna.
Dalam pewayangan, Kresna bukan hanya tokoh bijak yang tenang dan penuh siasat. Ia juga sosok yang bisa mengamuk ketika kebenaran diinjak-injak. Dalam perang Bharatayuda, saat dunia telah terlalu jauh menoleransi kezaliman Kurawa, Kresna tidak lagi cukup hanya memberi nasihat. Ia bertriwikrama—menampakkan wujud kosmisnya, menjadi berhala hitam raksasa, menakutkan, melampaui batas manusia.
Pertanyaannya:
"Apakah amarah itu masih bagian dari kebijaksanaan ?"
Jawabannya justru ya.
Dalam etika Jawa, kebijaksanaan bukan berarti selalu lembut. Ada saatnya tepa selira harus berhenti, dan tegas harus mengambil alih. Kresna marah bukan karena dendam pribadi, melainkan karena nurani semesta sudah dilukai terlalu lama. Amarahnya bukan ledakan ego, tetapi ekspresi terakhir dari keadilan yang tak lagi bisa ditunda.
Kresna mengamuk justru karena ia terlalu bijak untuk terus diam.
Di situlah letak pelajaran yang sering kita lupakan. Kita terlalu cepat memuliakan sunyi, tapi lupa menimbang akibatnya. Kita takut dianggap ribut, keras, atau tidak dewasa. Padahal bisa jadi yang tidak dewasa adalah keberanian kita sendiri.
Di zaman sekarang, kita sering memilih aman: tidak ikut campur, tidak mau repot, tidak mau kehilangan posisi. Kita menyebutnya profesional. Kita menyebutnya netral. Padahal netral dalam ketidakadilan adalah keberpihakan yang terselubung.
Meja ngopi itu kembali memanggilku. Ia memanggil kejujuran. Di sana aku belajar bahwa rasa tidak ingin dimatikan. Ia ingin diakui. Ia ingin diberi sikap. Sebab jika tidak, ia akan membakar dirinya sendiri dari dalam.
Kadang, seperti Kresna, kebijaksanaan justru lahir ketika kita berhenti pura-pura sabar.
Kebumen, Klirong 24 Januari 2026
Ruang Ngopi
Cari
Kategori
Artikel Terbaru
- Buku Sejarah SMP Ma’arif 3 Kebumen Diserahkan Secara Simbolis Jelang Kajian Ilmu Falak Harlah NU Abad Ke-1
- Pohon yang Lupa Akar Sebuah Refleksi Krisis Kesadaran Asal-usul
- SMK Ma’arif 9 Kebumen Mulai Bangun GOR, Perkuat Fasilitas Pendidikan Vokasi
- Cinta, Nurani, dan Ketahanan Batin Kita
- Pikulan Mlebu Rasane Kawulo: Ketika Kekuasaan Kehilangan Adab
- Gelas Retak Bernama Wewenang: Satir Kekuasaan yang Lupa Amanah
- Ngayomi: Memimpin dengan Kemanusiaan
- Pondasi yang Dilupakan (Laku Jawa, Kesadaran Descartes, dan Etika Kekuasaan)

