Kapur yang Tak Habis di Tangan PengabdianPendidikan
Category : Ruang Kreatif dan Inspiratif Guru | Sub Category : Ruang Kreatif dan Inspirasi Guru | Posted on 2026-01-31 10:04:30
Kapur yang Tak Habis di Tangan Pengabdian
Oleh : Aji Priyo utomo*
Purna tugas bukanlah titik, melainkan koma. Ia bukan akhir dari kalimat pengabdian, melainkan jeda—ruang untuk berhenti sejenak, menarik napas, dan menengok kembali jejak yang telah ditanam dalam perjalanan panjang pendidikan. Dalam dunia yang sering menilai manusia dari jabatan dan posisi, purna tugas mengingatkan kita bahwa yang paling penting bukanlah kursi yang kita duduki, melainkan nilai yang kita tinggalkan.
Di wilayah kerja Cabang Dinas Pendidikan Wilayah IX Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah, pendidikan tumbuh bukan hanya dari kebijakan, tetapi dari ketekunan para guru, kepala sekolah, dan pemimpin pendidikan yang bekerja dalam sunyi. Di sekolah-sekolah seperti SMK Ma’arif 9 Kebumen, kami merasakan langsung bagaimana arah kebijakan tidak sekadar turun sebagai perintah, melainkan hadir sebagai pendampingan. Pendidikan di daerah tidak hidup dari slogan, tetapi dari keteladanan.
Dalam konteks inilah, purna tugas Dr. Nikmah Nurbaity, S.Pd., M.Pd.B.I., menjadi momen reflektif bagi seluruh ekosistem pendidikan di Cabdin IX Jateng. Selama masa pengabdiannya, beliau dikenal bukan hanya sebagai pejabat struktural, tetapi sebagai pemimpin yang memahami bahwa pendidikan adalah urusan manusia. Dalam berbagai kesempatan, Dr. Nikmah tidak hanya berbicara tentang regulasi, tetapi juga tentang makna kehadiran negara dan lembaga dalam membela mutu sekolah dan martabat guru.
Kahlil Gibran dalam The Prophet menulis,
“Work is love made visible.”
Kerja adalah cinta yang menjelma tindakan.
Pada diri Dr. Nikmah Nurbaity, kami melihat cinta itu bekerja: dalam ketegasan yang tetap berpeluk pada nurani, dalam kebijakan yang berpihak pada peningkatan kualitas, dan dalam kepemimpinan yang tidak memerintah dari kejauhan, melainkan berjalan bersama dari dekat.
Purna tugas seorang pejabat pendidikan di Cabdin IX bukanlah sekadar pergantian administratif. Ia adalah momen reflektif bagi seluruh ekosistem pendidikan di Kebumen dan sekitarnya. Kita diajak bertanya: apakah sekolah-sekolah kita sudah menjadi ruang tumbuh bagi kemanusiaan? Apakah kebijakan kita sudah sungguh berpihak pada mutu dan martabat guru serta peserta didik?
Di SMK Ma’arif 9 Kebumen, kami belajar bahwa pendidikan vokasi bukan hanya soal keterampilan teknis, tetapi juga pembentukan karakter. Dunia kerja membutuhkan tenaga terampil, tetapi bangsa membutuhkan manusia bermartabat. Di sinilah peran kepemimpinan pendidikan seperti yang dicontohkan oleh Dr. Nikmah menjadi sangat penting: menjembatani antara tuntutan zaman dan nilai-nilai kemanusiaan.
Hari-hari setelah purna tugas memang lebih sunyi. Tidak ada lagi rapat yang berkejaran, tidak ada lagi agenda yang memaksa. Namun justru dalam kesunyian itulah seseorang belajar bahwa pendidikan sejati bukan tentang kecepatan, melainkan kedalaman. Bukan tentang seberapa banyak yang dikerjakan, tetapi seberapa tulus yang dihayati.
Purna tugas adalah fase pematangan. Ia adalah saat berdamai dengan perjalanan: dengan keberhasilan yang patut disyukuri, dan keterbatasan yang patut dimaknai. Dalam dunia pendidikan, kita tidak membutuhkan manusia sempurna, tetapi manusia yang setia pada nilai.
Maka, purna tugas Dr. Nikmah Nurbaity seharusnya kita baca sebagai cermin. Cermin bagi kami di sekolah-sekolah termasuk di SMK Ma’arif 9 Kebumen untuk terus menjaga roh pendidikan: menghadirkan ilmu dengan nurani, keterampilan dengan karakter, dan kepemimpinan dengan keteladanan.
Cari
Kategori
Artikel Terbaru
- Kapur yang Tak Habis di Tangan PengabdianPendidikan
- Buku Sejarah SMP Ma’arif 3 Kebumen Diserahkan Secara Simbolis Jelang Kajian Ilmu Falak Harlah NU Abad Ke-1
- Pohon yang Lupa Akar Sebuah Refleksi Krisis Kesadaran Asal-usul
- SMK Ma’arif 9 Kebumen Mulai Bangun GOR, Perkuat Fasilitas Pendidikan Vokasi
- Cinta, Nurani, dan Ketahanan Batin Kita
- Pikulan Mlebu Rasane Kawulo: Ketika Kekuasaan Kehilangan Adab
- Gelas Retak Bernama Wewenang: Satir Kekuasaan yang Lupa Amanah
- Ngayomi: Memimpin dengan Kemanusiaan

