Lukisan Ampas Kopi
Category : Ruang Sastra | Sub Category : Ruang Sastra | Posted on 2025-10-26 16:20:16
1. Secangkir kopi
Hari ini orang lain boleh menganggapku hanya sampah
yang terbuang di tempat sampah,
seperti ampas kopi, tetapi yakinlah
pada suatu hari nanti mereka akan menyaksikan
akulah yang pernah memberi warna dan rasa yang dicari-cari pecinta kopi hitam.
Bukankah sepahit apapun kopi tetaplah kopi
yang tak pernah berdusta atas nama rasa.
Menikmati kopi pun tak perlu bercerita tentang pahitnya,
persis seperti hidup ini,
tak perlu bercerita tentang pahitnya
karena orang lainpun belum tentu menerimanya sebagai kepahitan.
Jalani saja hidup ini, dengan penuh kepasrahan
karena tak selamanya secangkir kopi itu terasa pahit.
2. Secangkir Kopi Basi
aku ingin tengelam dan berenang
dalam secangkir kopi basi
sebelum terbuang dari luar pikiranmu
aku ingin masuk dan bersembunyi
dalam air bawah tanah
sebelum hujan kembali turun
membasuh air mata yang bergulir
dibawah pipi.
Pada sebuah pesta tak bertuan
gelas-gelas kaca tergeletak rapi.
apakah masih ada aroma kopi ?
yang tercium.
atau masih adakah sisa-sisa
kegaduhan. Mengusik pikiran untuk
bertanya-tanya..
tentang kopi.
3. Lukisan Ampas Kopi
Ketika jam dinding kembali berdetak
mengisi rumah.
ada sesuatu yang mulai terlihat
pada kanvas putih itu ?
Lukisan perempuan
sedang duduk menikmati secangkir
kopi basi.
terbuat dari sisa-sisa ampas kopi
yang terbuang sia-sia.
Gumpalan asap rokok dan puntungnya
tergeletak disebelahnya.
mulut yang tak pernah berhenti
bergumam
menyebutkan seorang nama.
laki-laki setengah baya itu
seorang pelukis ampas kopi.
begitu banyak karyanya terpampang
pada setiap rumah.
hanya saja ketika ia melukis
perempuan itu,
berhari-hari, berminggu-minggu,
sampai berbulan-bulan
tak pernah kunjung selesai.
entah sudah berapa gelas kopi yang
memenuhi lambungnya.
siapakah yang memesan lukisan itu ?
cinta atau kerinduan
4. Biografi Rasa
Mencintaimu adalah rasa yang tak pernah
mampu
dituangkan pada secangkir gelas
kopi.
rasa ini tak terlihat seperti
hitamnya jelaga.
dan putihnya awan.
tetapi ada.
atau mungkin lukisan warna pelangi
disaat musim hujan.
ketika rasa itu, menghampiriku pada
saat
matamu meluluhkan kerasnya hati.
Katanya jatuh cinta pada pandangan
pertama
membuat sebagian orang resah dan
gelisah.
mungkin juga denganku.
tetapi, resah itu hanya membuatku
semakin membisu.
aku hanya mau menuliskannya dalam
sebuah biografi rasa.
yang barangkali pada suatu hari
nanti
ketika hujan jatuh membawa kenangan
saat tanpa sengaja kita bertemu.
lalu tanpa malu-malu kamu akan
membaca biografi rasa hatiku itu ?
: Kenapa aku begitu penakut untuk
mengatakan
bahwa aku jatuh cinta padamu ?
5. Pahitnya Rindu
ketika kopi tak begitu terasa pahit
dan warnanya tak lagi hitam.
ada yang pelan-pelan mulai mengalir
jauh.
lewat celah labirin rasa.
pada hari itu, ada yang pura-pura
hilang ingatan.
menari dibawah tiang bendera
bertemankan hujan.
menghapus jejak air mata
pada guratan pipi halus
merahnya lipstik, luntur berbaur
membaur
dalam sepi.
: Tolong buatkan aku biografi rasa
tanpa air mata.
Cari
Kategori
Artikel Terbaru
- Kapur yang Tak Habis di Tangan PengabdianPendidikan
- Buku Sejarah SMP Ma’arif 3 Kebumen Diserahkan Secara Simbolis Jelang Kajian Ilmu Falak Harlah NU Abad Ke-1
- Pohon yang Lupa Akar Sebuah Refleksi Krisis Kesadaran Asal-usul
- SMK Ma’arif 9 Kebumen Mulai Bangun GOR, Perkuat Fasilitas Pendidikan Vokasi
- Cinta, Nurani, dan Ketahanan Batin Kita
- Pikulan Mlebu Rasane Kawulo: Ketika Kekuasaan Kehilangan Adab
- Gelas Retak Bernama Wewenang: Satir Kekuasaan yang Lupa Amanah
- Ngayomi: Memimpin dengan Kemanusiaan

