Api yang Tak Boleh Padam
Category : Ruang Opini | Sub Category : Ruang Opini | Posted on 2025-10-28 17:58:42
Api yang Tak Boleh Padam
Apakah Sumpah Pemuda hanya sekadar diperingati, atau sungguh dihayati dalam denyut kehidupan kita hari ini? Bung Karno pernah mengatakan , “Beri aku seribu orang tua,
niscaya akan kucabut Semeru dari akarnya. Beri aku sepuluh pemuda, niscaya akan
kuguncangkan dunia.” Apabila kita membaca kutipan tersebut bukanlah hanya
semata-mata sekadar pujian bagi kaum muda, melainkan sebuah pengakuan bahwa sejatinya
pemuda adalah energi perubahan. Sepuluh pemuda yang memiliki semangat seperti
para pengucap Sumpah 1928 bisa mengguncang sejarah, mengguncang kebekuan,
mengguncang keterpurukan bangsa. Hanya saja Bung Karno juga mengingatkan dalam
banyak pidatonya bahwa semangat itu tidak boleh berhenti pada kata-kata; ia
harus menjelma menjadi tindakan, menjadi api yang menyala di dada setiap anak
muda Indonesia.
Hari ini tanggal 28 Oktober, merah putih berkibar lebih tegak dari
biasanya. Di sekolah, kantor, dan ruang media sosial begitu ramai, seolah
menyiramkan semangat baru pada tubuh bangsa. Namun, di balik hiruk-pikuk
upacara dan ucapan seremonial, terselip pertanyaan yang menuntut jawaban jujur:
Apakah Sumpah Pemuda hanya sekadar diperingati, atau sungguh dihayati dalam
denyut kehidupan kita hari ini?
Sejatinya memahami konteks Sumpah Pemuda 1928 tentunya tidak
terlepas dari sejarah panjang bangsa ini, seperti mercusuar di tengah gelapnya
penjajahan. Ia lahir dari rahim penderitaan, dari dada-dada muda yang menolak
menyerah, tunduk, dan kalah. Di sebuah
rumah sederhana di Jalan Kramat Raya, para pemuda dari berbagai suku dan
organisasi bersatu, menanggalkan warna-warna kedaerahan, dan menjahit satu
bendera bernama Indonesia. Saat dunia mereka masih diikat oleh perbedaan
bahasa, adat, dan daerah, mereka berani menyuarakan:
Pertama: Kami putra dan
putri Indonesia, mengaku bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia.
Kedua: Kami putra dan
putri Indonesia, mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia.
Ketiga: Kami putra dan
putri Indonesia, menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.
Kalimat itu bukan hanya sumpah, melainkan ikrar yang membelah
sejarah. Bila perjuangan fisik adalah api yang membakar tubuh, maka Sumpah
Pemuda adalah bara yang menghangatkan jiwa bangsa. Ia adalah nyala yang tidak
boleh padam, karena di dalamnya tersimpan makna persatuan yang menjadi denyut nadi
kehidupan bangsa Indonesia. Dari sanalah benih kemerdekaan itu tumbuh, dari
sanalah kesadaran nasional mulai bersemi. Sumpah Pemuda ibarat jembatan emas
yang menghubungkan keanekaragaman suku, budaya, bahasa , adat istiadat, dan agama menjadi
kekuatan tunggal yang tak tertandingi.
Hanya saja, hampir satu abad berlalu, bara itu kini mulai redup
diselimuti kabut zaman. Dunia digital yang serba cepat membawa pemuda pada
pusaran informasi tanpa arah. Kemerdekaan yang dulu diperjuangkan dengan darah
dan air mata, kini sering disia-siakan dalam kemalasan berpikir dan keterlenaan
oleh hiburan semu. Dahulu, pemuda berperang dengan senjata dan tekad; kini,
banyak yang terperangkap dalam perang opini, ego, dan komentar di dunia maya.
Di ruang-ruang virtual itu, persatuan yang dulu dibangun dengan pengorbanan
justru mudah retak oleh perbedaan pandangan yang terlihat sepele.
Sumpah Pemuda bukanlah prasasti beku yang hanya sekedar diposting
atau mungkin pajang di dinding sekolah. Ia adalah nadi yang seharusnya terus
berdenyut dalam diri setiap anak bangsa. Persatuan yang diikrarkan para pemuda
1928 bukan sekadar kesepakatan politis, melainkan janji moral untuk menjadikan
Indonesia rumah bersama. Rumah yang beratap langit yang sama, berdinding
perbedaan, namun berpijak pada tanah yang satu: tanah air Indonesia.
Harus disadari bahwa pemuda hari ini memikul tanggung jawab yang
tak kalah berat dari para pendahulunya. Mereka tidak lagi melawan penjajah
bersenjata, tetapi menghadapi penjajahan baru: kemiskinan moral, kebodohan
digital, dan krisis identitas. Tantangan ini jauh lebih halus, namun dampaknya
bisa lebih mematikan. Ketika banyak pemuda kehilangan arah, lupa akan jati
diri, dan bangga meniru budaya asing tanpa menyaring nilai-nilai luhur bangsa,
di sanalah makna Sumpah Pemuda mulai pudar.
Menjadi pemuda di era global berarti harus berakar kuat pada tanah tempat berpijak kaki sendiri, namun berdaun rindang menjangkau dunia. Bahasa Indonesia, yang dulu menjadi simbol pemersatu, kini harus tetap dijaga dari erosi zaman.Tidak bisa dipungkiri bahwa Media sosial memang menghubungkan manusia lintas benua, tetapi hanya hati yang mencintai bangsanya yang mampu menjaga persatuan dalam kebhinnekaan. Untuk apa zaman menjadi moderen, namun hati kita kosong tanpa cinta.
Sumpah Pemuda mengajarkan bahwa persatuan tidak lahir dari
kesamaan, tetapi dari kesadaran akan perbedaan yang dirajut dengan cinta. Para
pemuda 1928 tidak menunggu sempurna untuk bersatu; mereka memilih bersatu agar
Indonesia menjadi sempurna. Semangat ini yang seharusnya menjiwai setiap
langkah generasi muda hari ini. Di ruang kelas, di kampus, di jalanan, di dunia
kerja, semangat itu harus menjelma menjadi tindakan nyata: menghormati
perbedaan, menolong sesama, dan berkarya bagi negeri.
Pemuda sejati bukan yang hanya lantang berbicara tentang cinta
tanah air, tetapi yang menjadikan cinta itu sebagai tenaga untuk bergerak.
Mereka adalah embun pagi yang menyegarkan bangsa, bukan kabut yang menutup
pandangan. Mereka adalah obor yang menerangi jalan perubahan, bukan api yang
membakar persaudaraan.
Indonesia hari ini membutuhkan pemuda yang tak hanya memiliki
seribu mimpi tanpa aksi, tetapi berani menyalakan api kontribusi. Pemuda yang
mampu mengubah keluh kesah menjadi karya, keresahan menjadi solusi, dan
perbedaan menjadi kekuatan. Ketika para pemuda mau bergandeng tangan,
menumbuhkan empati, serta menyalakan cahaya di lingkungannya, maka Sumpah
Pemuda tidak lagi sekadar kenangan, melainkan kenyataan yang hidup di setiap
tarikan napas bangsa.
Peringatan Sumpah Pemuda seharusnya bukan hanya upacara tahunan
yang diisi dengan seragam dan pidato. Ia harus menjadi ruang perenungan:
sudahkah kita menghidupi semangat itu dalam tindakan? Sudahkah kita menjaga
bara persatuan di tengah ombak perpecahan? Bila belum, maka bangsa ini akan
kehilangan arah, karena kapal besar bernama Indonesia hanya akan berlayar jika
para pemudanya memegang kompas yang sama: cinta tanah air.
Setiap generasi memiliki medan perjuangannya sendiri. Para pemuda
1928 melawan penjajahan dengan semangat persatuan; pemuda masa kini harus
melawan keputusasaan dengan semangat yang sama. Di tengah derasnya arus
globalisasi, mereka harus menjadi jangkar moral yang menahan kapal bangsa agar
tidak hanyut kehilangan arah. Mereka harus menjadi penjaga lentera yang terus
menyala di tengah badai perubahan. Sumpah
Pemuda bukan sekadar peristiwa sejarah; ia adalah napas kehidupan bangsa. Ia
bukan batu nisan masa lalu, melainkan mata air yang harus terus mengalir
memberi kehidupan bagi Indonesia masa depan. Jika bara itu padam, maka bangsa
ini kehilangan sinarnya. Tetapi jika bara itu dijaga, maka Indonesia akan terus
bersinar di kancah dunia.
Oleh karena itu, mari kita jaga api pernah dinyalakan para pemuda
1928 di tengah gelapnya penjajahan. Biarkan nyalanya menerangi langkah kita,
menghangatkan persaudaraan kita, dan membakar semangat kita untuk terus
mencintai Indonesia. Sebab, Sumpah Pemuda bukan sekadar diperingati dengan
kata-kata, melainkan dihidupi dalam tindakan. Di tangan para pemuda yang berani
bermimpi, berjuang, dan bersatu, Indonesia akan terus menulis kisahnya di
langit sejarah, sebagai bangsa yang tak pernah padam apinya.
Cari
Kategori
Artikel Terbaru
- Kapur yang Tak Habis di Tangan PengabdianPendidikan
- Buku Sejarah SMP Ma’arif 3 Kebumen Diserahkan Secara Simbolis Jelang Kajian Ilmu Falak Harlah NU Abad Ke-1
- Pohon yang Lupa Akar Sebuah Refleksi Krisis Kesadaran Asal-usul
- SMK Ma’arif 9 Kebumen Mulai Bangun GOR, Perkuat Fasilitas Pendidikan Vokasi
- Cinta, Nurani, dan Ketahanan Batin Kita
- Pikulan Mlebu Rasane Kawulo: Ketika Kekuasaan Kehilangan Adab
- Gelas Retak Bernama Wewenang: Satir Kekuasaan yang Lupa Amanah
- Ngayomi: Memimpin dengan Kemanusiaan

