LINK Pendaftaran SPMB SMK Ma'arif 9 Kebumen

Selembar Ijazah Air Mata Doa

Category : Ruang Sastra | Sub Category : Ruang Sastra | Posted on 2025-11-12 18:05:52


Selembar Ijazah Air Mata Doa

"SELEMBAR IJAZAH AIR MATA DOA"

 

Tokoh   :

 Rina , Ayah, Ibu, Nyiur,  Putri, Guru, Nadia , tetangga 1,tetangga 2, tetangga 3

 

(Latar: Panggung sekolah, dekorasi kelulusan. Musik Ibu karya Iwan Fals dimainkan.)

Ribuan kilo jalan yang kau tempuh, Lewati rintang untuk aku, anakmu Ibuku sayang, masih terus berjalan Walau tapak kaki penuh darah, penuh nanah. Seperti udara Kasih yang engkau berikan Tak mampu ku membalas Ibu. Ibu Ingin kudekap Dan menangis di pangkuanmu Sampai aku tertidur Bagai masa kecil dulu ,Lalu doa-doa Baluri sekujur tubuhku. Dengan apa membalas Ibu? Ibu Ribuan kilo jalan yang kau tempuh Lewati rintang untuk aku, anakmu Ibuku sayang, masih terus berjalan, Walau tapak kaki penuh darah, penuh nanah.  Seperti udara Kasih yang engkau berikan Tak mampu ku membalas Ibu Ibu.. )

Sesesok ibu masuk panggung dengan memberikan Gambaran perjuangan, demi membiayai sekolah anaknya. Meskipun terkadang ia mendapatkan cibiran yang menyakitkan namun ia tetap tersenyum dengan sabar, tiba-tiba para tetangga masuk.

 

Tetangga 1 : (dengan nada sinis)

Eh, kalian udah denger belum? Si Rina,  anaknya Bu Minah itu, katanya mau lulus SMK tahun ini ?

Tetangga 2 :(terkejut dan tertawa sinis)

Hah?! Bu Minah? Yang jual sayuran di ujung gang itu? Lulus SMK? Hahaha… jangan-jangan cuma numpang nama aja di ijazah!

Tetangga 1 :(ikut menyahut,)

Iya lho, aku juga heran. Dulu aja seragam SD-nya tambal-tambalan, sekarang tiba-tiba bisa lulus SMK. Biaya sekolah itu gak murah!

Tetangga 2 : (menggeleng-gelengkan kepala)

dia dapet bantuan dari mana gitu. Tapi tetep aja, dari mana dia bisa bayar seragam, buku, ongkos? Kan katanya hidupnya susah banget.

Tetangga 3:

(berbisik, tapi dibuat-buat)

Atau… ada donatur? Eh, atau jangan-jangan ? Hehe…

Tetangga 1 :

(tertawa pelan)

Yani jangan sembarangan ah! Tapi bener juga sih, zaman sekarang susah percaya. Yang katanya miskin, tapi bisa nyekolahin anak sampai lulus. Padahal kita aja masih mikir dua kali mau masukin anak ke les.

Tetangga 2:

(angkuh)

Makanya, aku tuh gak percaya sama istilah ‘orang miskin berprestasi’. Kalau gak ada uang, ya udah, terima nasib. Gak usah maksa sekolah tinggi-tinggi. Ujung-ujungnya juga kerja biasa.

Tetangga 3 :

(dengan tatapan setengah iba, setengah sinis)

Tapi ya… kalau dia bener lulus karena usaha sendiri, hebat juga sih. Tapi tetep aja, kok bisa ya?

(Setelah tetangga pergi masuklah sahabat-sahabat Rina!. )

Nadia:

Setelah tiga tahun belajar di SMK Ma ‘arif Sembilan Kebumen, akhirnya Kalian berhasil lulus sekolah. Tapi di balik senyum kalian hari ini, yakinlah ada rasa haru karena ingat bagaimana perjuangan pengorbanan orang tua,  agar Kalian tetap bisa sekolah "

Nyiur :

Yakinlah, wahai Sahabatku saat engkau mengenggam selembar kertas, kering di mata dunia, basah di pelupuk hatimu. Aku yakin itu  bukan hanya sekadar tinta dan nama, ada air mata dan darah perjuangan yang tak pernah terlihat, atau mungkin peluh yang tak pernah dihitung, ada juga tangis-tangis yang dipeluk diam-diam dalam malam. Sahabat di balik senyum kalian hari ini, aku tahu ada ribuan luka yang tak terucap, ada malam-malam panjang penuh doa, yang hanya dijawab sunyi. Satu demi satu, mimpi kalian tersemat di dada, seberat gunung, sepedih badai. Hari ini, kalian berdiri bukan karena kuatku, tapi karena doa yang tak pernah berhenti terbang ke langit, dan air mata yang menggenangi sajadah kesabaran.

 

Rina :

Tiga tahun sudah aku belajar di SMK Ma arif 9 Kebumen,  hari ini aku wisuda namun perjalanan baru akan dimulai, perjuangan mengubah Nasib, perjuangan untuk membahagiakan orang-orang yang kucintai.

Padahal aku tahu, bagaimana perjuangan ayah dan ibu, mereka terkadang pura-pura sehat agar aku tetap sekolah, bekerja tak mengenal waktu. Padahal  Setiap Hari Ibu menjual sayur di pasar dengan lutut bengkak karena terlalu lama jongkok. Ayah juga selalu menyembunyikan batuk berdarahnya setiap kali bertemu denganku.

Hari ini, aku akhirnya lulus. Tapi ketika aku pegang ijazah ini, yang terasa bukan kebanggaan. Melainkan beban. Karena di balik tinta emas namaku, ada peluh dan air mata mereka yang tak tercetak. Aku ingin berterima kasih, tapi kata-kata mana yang cukup ? 

 

( Rina pun terkejut, saat tiba-tiba adiknya  menghampiri )

Putri :

Door…..Mba Rina Cantik Sekali hari ini, ? ( Sedikit genit mengoda kakaknya )

Rina :

Ade, ..Jantung kakak mau copot..

Putri :

Mba Rina Selamat ya hari ini  wisuda, Padahal Putri masih ingat tiga tahun yang lalu, waktu pertama kali kakak pakai seragam abu-abu biru itu. Kakak bilang, " Kakak pasti jadi orang sukses, agar bisa membahagiakan Ibu, Bapak dan aku ? . Setelah Lulus SMK kakak ingin langsung bekerja itu sebabnya kakak lebih memilik masuk SMK Ma arif 9 Kebumen d. Kakak ingin suatu hari nanti semua biaya sekolahku kakak yang membiayainya”

 

Rina :

Iya dek, rasanya baru kemarin kakak masuk SMK Ma’arif 9 Kebumen, hari ini sudah mau wisuda. Satu tahun lagi adik juga lulus SMP, wajib melanjutkan di sekolahnya kakak. De Padahal kakak sempat berpikiran apakah kakak bisa menyelesaikan sekolah, adik tau sendiri bagaimana kondisi ekonomi keluarga kita. Namun, Kakak yakin bahwa Mimpi itu memang harus diperjuangkan.

Putri :

Iya kak, pelaut ulungpun tidak dilahirkan dilautan tenang, melainkan di lautan yang bergelombang. Bukankah Perahu juga diciptakan untuk berlayar di lautan bukan bersandar di Pelabuhan. Hadapi, Nikmati, Rasakan. Dibalik kesulitan hidup yang kita hadapi pasti ada kemudahan.

Rina :

Massa Allah ( Tersenyum) siapa yang mengajari kata-kata itu ?

Putri :

Sikap Kakak yang selalu mengajariku selama ini, aku  selalu lihat betapa lelahnya kakak pulang sekolah dengan seragam yang sedikit lusuh, atau malam-malam kakak begadang ngerjain tugas prakarya sampai jari-jarimu lecet. Aku tahu kakak pernah nangis di kamar mandi karena nilai ujian semasteran hampir jeblok, tapi besoknya kakak tetap berangkat mengikuti les tambahan di luar jam sekolah memakai ongkos yang seharusnya buat jajan.

 

Kakak Besok, ketika kau jalan ke panggung, aku mungkin akan nangis. Bukan karena bangga—tapi karena aku ingat waktu kau hampir putus sekolah tahun lalu, saat Ayah sakit dan kakak diam-diam memecahkan celengan kakak,  padahal kakak selalu bilang bahwa uang itu untuk bekal saat merantau nanti.

Selamat, ya Kak atas wisudanya hari ini. Maafkan adikmu yang cerewet ini, yang suka minta diajari materi Pelajaran yang aku tak bisa padahal kau baru pulang capek sekolah.

Menyannyikan lagu laskar Pelangi (Mimpi adalah kunci Untuk kita menaklukkan dunia. Berlarilah tanpa Lelah Sampai engkau meraihnya,  Laskar Pelangi , Takkan terikat waktu. Bebaskan mimpimu di angkasa Warnai bintang di jiwa Menarilah dan terus tertawa . Walau dunia tak seindah surga Bersyukurlah pada Yang Kuasa Cinta kita di dunia Selamanya….).

 

(Rina tersenyum, tapi matanya berkaca-kaca.)

Rina :(berbisik):

"Ayah... Ibu... Aku tidak akan pernah lupa semua yang kalian korbankan."

(Adegan Ibu menjual sayuran untuk membantu biaya sekolah. Musik sedih mengalun ).

"Ayah, Ibu... Terima kasih! Aku tidak akan menyia-nyiakan semua pengorbanan kalian!"

Ibu :

( Tiba-tiba Memeluk Rina ) Nak sini peluk ibu, ada yang ibu ingin sampaikan (menyentuh pipi anaknya) Kamu sudah tumbuh jadi anak yang kuat, Dan Ibu cuma ingin bilang satu hal…

Rina :

Apa Bu ?

Ibu :

(sambil menahan air mata)

Terima kasih sudah bertahan sejauh ini, Terima kasih sudah jadi alasan Ibu tetap kuat setiap hari. Dan Ibu bangga sekali sama kamu…

Rina :

Seperti ibu, Maafkan anakmu yang tak pernah jadi sempurna, tapi aku berjanji Suatu hari, aku akan ganti semua lelahmu dengan bahagia." (berlutut pelan di depan ibunya, memeluk pinggang sang ibu) IBu… aku nggak akan pernah bisa balas semuanya. Ijazah ini… bukan milikku. Ini milik Ibu. Terima kasih karena nggak pernah nyerah memperjuangkan anak sekeras kepala aku…

 

Ibu:

(berjongkok, memeluk anaknya erat)

Ijazah itu milikmu, Nak… Tapi air matamu…

adalah hadiah terindah buat Ibu hari ini.

 

Nadia

Di balik setiap kesuksesan seorang anak, ada air mata, lelah, dan cinta tanpa syarat dari orang tua. Sahabat berdirilah, hampiri orang-orang hebat itu, peluklah mereka, jangan ragu, lihatlah bagaimana guratan wajah mereka, bersujud di bawah kaki mereka, untuk mengucapkan terimakasi, atas perjuangan mereka selama ini, sahabat bila engkau ingin menangis, menangislah tumpahkan air matamu itu ?

Nyiur :

Sahabat Hari ini satu perjalanan panjang telah resmi kita tamatkan. Lembaran demi lembaran penuh tawa, tangis, dan perjuangan akhirnya sampai di halaman terakhir. Namun, ini bukan akhir. Ini adalah gerbang baru, tempat kita akan melangkah ke dunia yang lebih luas, lebih keras, dan lebih penuh tantangan. Sahabat, Selamat berjuang untuk perjalanan selanjutnya. Bawa semua pelajaran, kenangan, dan semangat yang kita kumpulkan selama ini. Percayalah, setiap langkah yang kamu ambil akan membawa kamu lebih dekat ke mimpi-mimpi besarmu. Dan ingat, meski jalan kita nanti mungkin berbeda, doa dan semangatku akan selalu bersamamu. Terbanglah setinggi yang kamu bisa. Dunia ini menunggu untuk melihat betapa hebatnya kamu.

 

(Saat anak dan ibunya saling berpelukan dari panggung belakang seorang guru tiba-tiba memberi kejutan untuk murid-muridnya )

Guru : 

Kutulis  tulisan singkat ini, Ketika Malam begitu sunyi.  Anakku yang hari ini di wisudaHari ini bukan sekadar hari kelulusanmu,   Tetapi hari di mana aku melihat bunga-bunga kecil yang dulu kutanam, mulai mekar perlahan. Dulu Engkau datang dengan mata yang penuh tanya, langkah yang ragu, dan hati yang polos.  Kini kau berdiri dengan kepala tegak, membawa mimpi yang mulai tumbuh tinggi.

 

Aku tak pernah mengharapkan balas jasa,   hanya satu pintaku,jangan pernah lupakan siapa dirimu dan dari mana kau memulai. Setiap tetes peluhmu, setiap air mata dalam diam,  aku tahu… aku melihatnya, karena di sanalah letak keajaibanmu. Nak, dunia di luar sana mungkin tak selalu ramah,   tapi ingatlah, bekalmu bukan hanya pelajaran,  melainkan doa-doa yang kuselipkan diam-diam setiap malam,   agar kakimu tak goyah, dan hatimu tetap bersih.

 

Jika suatu saat kau merasa lelah, kembali lah sejenak ke masa ini, masa ketika kau berjuang, tumbuh, dan akhirnya menang. Selamat, anakku. Hari ini kau bukan hanya lulusan dari sebuah sekolah,  tapi lulusan dari perjalanan yang tak akan pernah kulupakan. Aku bangga padamu. 

Selalu..

 

SELESAI!

Leave a Comment:
Bagikan
Kode barcode SPMB SMK Ma'arif 9 Kebumen