Retak di Gelas Kesunyian
Category : Ruang Sastra | Sub Category : Ruang Sastra | Posted on 2025-11-17 08:55:37
Retak di gelas Kesunyian
Jejak kesunyian di gelas yang retak.
Ada malam yang jatuh di antara secangkir kopi basi. Hujan lupa cara pulang ke bumi.
Di sanalah namamu dulu berpendar, menjadi lentera kecil, terpaut di altar harapan.
Ketika lentera itu padam,
bukan karena angin, tanganmu sendiri yang menutup kacanya.
Seketika ada yang tiba-tiba menjadi hutan kehilangan suara burung.
sunyi, senyap dan tak ada lagi lagu tersisa,
belajar berdiri dengan lutut gemetar,
perahu kecil memaksa melawan badai meski layarnya telah robek oleh janji tak ditepati.
Luka seperti sungai yang tak mau surut, membawa potongan ingatan menuju muara yang tak berujung. Hanya saja tiba-tiba Ada yang tetap berjalan, menyulam langkah dari serpihan keberanian yang tersisa.
Sebab ,bahwa setiap hati patah bukan berarti mati—ia hanya sedang menata ulang peta-peta yang terbakar.
Dan suatu hari, ketika fajar belajar datang lagi,aku akan berdiri di tepi hari baru,membawa luka telah kupulihkan sendiri.
Aku akan ingin berkata pada dunia:
“Beginilah rasanya menjadi cahaya,yang lahir dari gelap yang pernah membuatnya runtuh.”
Cari
Kategori
Artikel Terbaru
- Kapur yang Tak Habis di Tangan PengabdianPendidikan
- Buku Sejarah SMP Ma’arif 3 Kebumen Diserahkan Secara Simbolis Jelang Kajian Ilmu Falak Harlah NU Abad Ke-1
- Pohon yang Lupa Akar Sebuah Refleksi Krisis Kesadaran Asal-usul
- SMK Ma’arif 9 Kebumen Mulai Bangun GOR, Perkuat Fasilitas Pendidikan Vokasi
- Cinta, Nurani, dan Ketahanan Batin Kita
- Pikulan Mlebu Rasane Kawulo: Ketika Kekuasaan Kehilangan Adab
- Gelas Retak Bernama Wewenang: Satir Kekuasaan yang Lupa Amanah
- Ngayomi: Memimpin dengan Kemanusiaan

