Sunyi di Balik Layar
Category : Ruang Sastra | Sub Category : Ruang Sastra | Posted on 2025-11-21 23:53:43
Sunyi di balik layar
Di balik layar yang selalu menyala,
ada sunyi yang tak pernah ikut berdialog
seperti hutan yang pandai menyembunyikan luka,
menyimpan retak kesehatan mental
di akar-akar yang menua perlahan.
Media sosial memori tentangmu
pernah tersimpan meski sebagaia cermin retak,
memantulkan wajah yang terselip di era generasi digital
yang berlari mengejar jejak cahaya,
namun sering tersandung bayangannya sendiri.
Like dan komentar menyerupai hujan buatan,
turun deras di permukaan, rumput sintestis
tapi tak pernah benar-benar
membasahi tanah yang tandus di dada.
Sementara itu,
di sudut langit batin
tergambar perubahan iklim diam-diam tumbuh
badai kecemasan, gelombang overthinking,
dan panas yang tak kunjung reda
di kepala yang sulit beristirahat.
Namun puisi selalu saja menemukan celah,
menyelinap di antara retakan hari,
membawa angin lembut mengingatkan:
bahwa sunyi bukan musuh,
melainkan ruang untuk kembali pulang,
tempat hati belajar menanam teduhnya sendiri.
Di balik layar,
barangkali aku adalah meteor kecil
yang berusaha tetap menyala
meskipun terkadang nyaris padam.
Dan dalam diam yang pelan membelai,
akhirnya terbesit di alam sadar:
bahwa merawat diri
adalah cara paling lembut
untuk menyelamatkan dunia
yang kita bawa dalam kepala.
Cari
Kategori
Artikel Terbaru
- Kapur yang Tak Habis di Tangan PengabdianPendidikan
- Buku Sejarah SMP Ma’arif 3 Kebumen Diserahkan Secara Simbolis Jelang Kajian Ilmu Falak Harlah NU Abad Ke-1
- Pohon yang Lupa Akar Sebuah Refleksi Krisis Kesadaran Asal-usul
- SMK Ma’arif 9 Kebumen Mulai Bangun GOR, Perkuat Fasilitas Pendidikan Vokasi
- Cinta, Nurani, dan Ketahanan Batin Kita
- Pikulan Mlebu Rasane Kawulo: Ketika Kekuasaan Kehilangan Adab
- Gelas Retak Bernama Wewenang: Satir Kekuasaan yang Lupa Amanah
- Ngayomi: Memimpin dengan Kemanusiaan

