Sunyi yang Disembunyikan Generasi Digital
Category : Ruang Sastra | Sub Category : Ruang Sastra | Posted on 2025-11-24 07:55:52
Di antara riuh timeline dan suara notifikasi,
ada generasi digital yang berjalan
sambil menahan gemuruh dalam dada
seperti ombak yang ingin pecah,
tapi terperangkap di balik layar kaca.
Mereka tersenyum pada foto,
namun terluka dalam cerita
yang tidak pernah terunggah. T
entang kesehatan mental yang rapuh,
tentang hati yang letih mengejar toxic productivity
yang dipuja algoritma dan budaya serba cepat.
Di lorong malam yang panjang,
seorang pelajar menutup buku sambil membungkus gelisah
burnout menjalari seperti asap yang tak terlihat, mengambang di udara,
mengurung jiwa yang terus dipaksa kuat.
Media sosial adalah panggung cahaya,
namun juga bisa menjadi ruang gelap
tempat perbandingan bertunas menjadi luka.
Kita menatap layar, tetapi lupa menatap diri sendiri
yang diam-diam berteriak minta dipeluk.
Wahai generasi yang tumbuh di antara kode dan cahaya,
ketahuilah: yang paling berharga bukanlah jumlah likes,
melainkan detak hati yang kau jaga agar tetap waras.
Beristirahatlah, meski dunia menuntutmu berlari.
Sebab tidak ada algoritma yang lebih penting
daripada menjadi manusia yang kembali pulang pada dirinya sendiri.
Cari
Kategori
Artikel Terbaru
- Kapur yang Tak Habis di Tangan PengabdianPendidikan
- Buku Sejarah SMP Ma’arif 3 Kebumen Diserahkan Secara Simbolis Jelang Kajian Ilmu Falak Harlah NU Abad Ke-1
- Pohon yang Lupa Akar Sebuah Refleksi Krisis Kesadaran Asal-usul
- SMK Ma’arif 9 Kebumen Mulai Bangun GOR, Perkuat Fasilitas Pendidikan Vokasi
- Cinta, Nurani, dan Ketahanan Batin Kita
- Pikulan Mlebu Rasane Kawulo: Ketika Kekuasaan Kehilangan Adab
- Gelas Retak Bernama Wewenang: Satir Kekuasaan yang Lupa Amanah
- Ngayomi: Memimpin dengan Kemanusiaan

