Rindu yang Menetap di Bawah Gerimis

Category : Ruang Sastra | Sub Category : Ruang Sastra | Posted on 2025-11-28 18:56:17


Rindu yang Menetap di Bawah Gerimis

Rindu yang Menetap di Bawah Gerimis


Pada gerimis yang jatuh lembut,
aku kembali menangkap matamu

berkaca-kaca,
seakan langit sengaja memantulkan
semua rindu yang tak sempat kau ucapkan.

Di bangku tua, hatiku mendengar
suara jiwamu yang bergetar pelan
bukan tentang luka,

melainkan tentang cinta

Tak pernah benar-benar padam.

Angin yang lewat membawa aroma masa lalu,
membius perasaan yang diam-diam
mencari wajahmu yang selalu menunduk malu.

Ada perahu kertas yang kita lipat bersama,
berlayar menuju harapan
yang berlipat-lipat seperti doa
yang tak pernah selesai menyebut namamu.

Gerimis makin rapat,

dan dunia terasa hanya milik kita berdua.

Air yang mengalir di jalanan

serupa irama hati yang riuh

saat menyebut namamu dalam diam.


Sisa makan malam kemarin

masih membekas seperti kenangan manis,

mengundangmu kembali

ke cerita yang tak ingin kita akhiri.


Aku menentang suaramu yang manis

bukan karena luka,

melainkan karena aku takut jatuh cinta lebih dalam.

Lalu muncul suara anak kecil

berlari di antara titik-titik hujan,

seolah mengajari kita

bahwa cinta bisa sederhana,

asal kau tetap di sini,

di bawah gerimis,

dalam dunia yang diam-diam

kita bangun bersama.

Leave a Comment:
Bagikan
Statistik Pengunjung
547
Hari Ini
31,956
Total
88
Unik Hari Ini
2
Online Now
Traffic Hari Ini
26.1% dari rata-rata